PUSKEPI Sebut Pengembangan Backbone Sumatra Jadi Fondasi Keandalan Kelistrikan

  • 27 Mei 2026 15:45 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengembangan backbone kelistrikan Sumatra dinilai akan menjadi fondasi penting bagi penguatan keandalan sistem listrik nasional di masa depan. Langkah tersebut dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan sistem sekaligus meminimalkan risiko gangguan pasokan listrik berskala besar.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Sofyano Zakaria mengatakan penguatan sistem interkoneksi di Sumatra perlu dipercepat, terutama melalui pengembangan jaringan transmisi berkapasitas besar yang telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

“Penguatan backbone Sumatra akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung. Selain itu, pengembangan pembangkit fast response, modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem,” kata Sofyano, di Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul terjadinya gangguan sistem kelistrikan di Sumatra yang memicu pemadaman di sejumlah wilayah. Menurut Sofyano, peristiwa tersebut perlu dilihat secara proporsional karena gangguan sistem berskala besar juga pernah dialami sejumlah negara maju.

Ia mencontohkan peristiwa blackout besar di Australia Selatan pada 2016 yang dipicu cuaca ekstrem dan menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi. Selain itu, Inggris juga pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan pada 2019 yang berdampak pada pemadaman luas dan gangguan transportasi publik.

Sofyano juga menyinggung gangguan kelistrikan berskala besar yang belum lama ini terjadi di Spanyol dan Portugal yang membutuhkan proses pemulihan sistem secara bertahap sebelum pasokan listrik kembali normal.

Menurut dia, pada sistem interkoneksi berskala besar seperti Sumatra, gangguan jaringan transmisi akibat faktor cuaca ekstrem dapat memberikan dampak luas terhadap kestabilan pasokan listrik.

“Yang terpenting adalah bagaimana proses penanganan dan penormalan sistem dilakukan secara terkoordinasi agar sistem kembali stabil,” ujarnya.

Ia menjelaskan proses pengembalian sistem kelistrikan tidak dapat dilakukan secara instan. Operator sistem harus memastikan kondisi frekuensi, tegangan, serta pasokan listrik telah berada pada tingkat aman sebelum jaringan dapat dioperasikan secara penuh.

Karena itu, ia menilai perhatian pemerintah dan para pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan saat ini seharusnya diarahkan pada penguatan sistem nasional agar kejadian serupa dapat ditekan di masa mendatang.

Pengembangan jaringan transmisi 500 kV, 275 kV, hingga penguatan jaringan 150 kV di Sumatra dinilai menjadi bagian penting dalam upaya membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, terintegrasi, dan mampu menghadapi berbagai potensi gangguan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....