BMKG: Kemarau Panjang 2026 Dimulai April
- 05 Mar 2026 04:22 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di hampir separuh wilayah Indonesia, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus. Informasi tersebut disampaikan melalui akun resmi TikTok dan Instagram @infoBMKG.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena, menjelaskan bahwa terdapat tiga pesan kunci yang perlu menjadi perhatian publik. Pertama, musim kemarau akan maju dari periode normal sehingga durasinya berpotensi lebih panjang. Kedua, mayoritas wilayah diprediksi mengalami musim kemarau di bawah normal, yang berarti kondisi akan lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan. Ketiga, situasi ini memerlukan kewaspadaan dini dari berbagai sektor.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau di bawah normal meliputi Sumatera bagian selatan, sebagian Lampung, mayoritas Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, sebagian besar Sulawesi, sebagian kecil Papua, serta Maluku dan Maluku Utara. Kondisi ini menunjukkan potensi penurunan curah hujan signifikan di banyak zona musim.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., menyebutkan bahwa dari sekitar 400 zona musim di Indonesia, sebanyak 57,2 persen diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih panjang dari kondisi normal. Artinya, lebih dari separuh wilayah berisiko menghadapi periode kering yang lebih lama.
BMKG menegaskan pentingnya langkah antisipatif sejak dini. Pengelolaan sumber daya air perlu diperkuat untuk menjaga ketersediaan air bersih. Di sektor pertanian, penyesuaian pola tanam menjadi krusial agar produksi pangan tetap stabil. Selain itu, kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) harus ditingkatkan, terutama di wilayah rawan.
Prediksi ini menjadi peringatan bahwa perubahan pola iklim semakin nyata dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat diharapkan memanfaatkan informasi klimatologis tersebut sebagai dasar perencanaan dan mitigasi risiko.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....