Tekanan Akademik Bisa Memicu Masalah Emosi pada Remaja
- 05 Okt 2026 16:02 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Tekanan akademik dan ekspektasi yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kondisi emosi remaja. Psikiater dr. Kusuma Minayati, SpKJ, mengatakan pengalaman setiap remaja dalam menghadapi tekanan berbeda-beda, termasuk dalam merespons tuntutan akademik di sekolah.
Menurut dr. Kusuma, tidak semua remaja akan memberikan respons yang sama ketika menghadapi hasil belajar yang kurang sesuai harapan. Ada remaja yang menganggap nilai rendah sebagai hal biasa, tetapi ada pula yang mengalami stres berat hingga merasa dirinya tidak berguna atau gagal.
“Misalnya ada remaja yang dapat nilai 40, santai saja. Tapi ada juga yang stres berat, merasa dirinya enggak berguna, merasa dirinya gagal dan lain sebagainya,” ujar dr. Kusuma saat dialog bersama RRI, Jumat, 2 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, tekanan tersebut dapat terbentuk dari ekspektasi yang ditanamkan sejak anak masih kecil. Orang tua yang terus-menerus memberikan target tinggi, misalnya mengharuskan anak selalu mendapatkan nilai sempurna, dapat membuat tuntutan tersebut perlahan menjadi tekanan yang berasal dari dalam diri anak.
Menurutnya, memiliki target akademik bukanlah sesuatu yang salah. Namun, orang tua perlu mempertimbangkan kemampuan dan kondisi anak serta memahami bahwa kegagalan mencapai target bukan berarti anak mengalami kegagalan dalam hidupnya.
Dr. Kusuma mencontohkan, ketika anak mendapatkan nilai 100, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan. Namun, ketika mendapatkan nilai 98, orang tua sebaiknya tidak langsung mempersoalkan kekurangan dua poin tersebut. Respons yang bijak dapat membantu anak tetap memiliki motivasi sekaligus mampu menerima kegagalan.
“Bagaimana kita merespons saat itu terjadi dan tidak terjadi. Jadi, bagaimana meresponsnya dengan wise, itu yang bisa membuat anak seimbang,” katanya.
Ia menambahkan, pola pengasuhan tersebut penting agar remaja tetap memiliki target terhadap dirinya sendiri, tetapi juga mampu menoleransi kegagalan dan melanjutkan usaha berikutnya. Kemampuan untuk menerima kegagalan menjadi bagian penting dalam perkembangan emosi remaja.
Selain persoalan akademik, pola yang sama juga dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan remaja, termasuk hubungan pertemanan. Ekspektasi yang terlalu jauh dari realitas dapat membuat remaja kesulitan menghadapi situasi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Karena itu, dr. Kusuma mengingatkan orang tua agar tidak hanya melihat hasil atau perilaku remaja, tetapi juga memahami faktor yang melatarbelakanginya. Komunikasi yang terbuka dan hubungan yang dekat diperlukan agar orang tua dapat mengetahui tekanan yang sedang dihadapi anak serta memberikan pendampingan sesuai kebutuhannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....