Sering Diabaikan, Gangguan Membaca pada Anak Bisa Jadi Tanda Disleksia

  • 17 Sep 2026 10:10 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta — Anak yang kesulitan membaca, mengeja, atau mengenali huruf tidak selalu berarti malas belajar. Disleksia pada anak dapat terlihat sejak sekolah dasar, sehingga orang tua dan guru perlu memperhatikan pola kesulitan belajar yang berlangsung terus-menerus.

Laman Mayo Clinic yang kami akses pada Kamis, 17 September 2026, menjelaskan disleksia sebagai gangguan belajar yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan membaca karena adanya hambatan dalam mengenali bunyi bahasa dan menghubungkannya dengan huruf serta kata. Kondisi tersebut berkaitan dengan perbedaan pada bagian otak yang memproses bahasa dan bukan disebabkan oleh masalah kecerdasan, pendengaran, atau penglihatan.

Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Farid Agung Rahmadi, menjelaskan tanda tersebut dalam seminar daring tentang disleksia pada anak pada Rabu, 16 September 2026. Menurut Farid, seperti dilansir kantor berita Antara, kelas 1 sampai kelas 3 sekolah dasar menjadi salah satu masa ketika kesulitan mengenali huruf dan bunyi mulai terlihat.

“Ketika kelas 1 sampai 3 itu anak mengalami kesulitan belajar membedakan atau mengidentifikasi huruf ini bunyinya bagaimana. Ketika ditambah dengan huruf vokal, maka juga sulit untuk mengeja,” kata Farid.

Memasuki kelas 4-6 Sekolah Dasar atau SD, gangguan tersebut semakin nampak jika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan soal, mengalami stres saat ujian, hingga merasa dirinya bodoh. Menurut Farid, tanda disleksia lain dapat terlihat saat anak kesulitan membaca kata-kata sederhana, membaca dengan tempo lambat, atau cenderung menghindari aktivitas membaca dan menulis. Pada beberapa kondisi, anak juga mengeluhkan rasa lelah, pusing, atau mengantuk saat membaca.

Perbedaan kemampuan anak dalam mengerjakan tes secara lisan dan tertulis juga dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Farid meminta orang tua dan guru memperhatikan kesulitan belajar yang menetap selama sedikitnya enam bulan.

“Ketika soalnya dibacakan, anak jauh lebih baik hasilnya daripada tes yang tertulis,” ucap Farid.

Meski demikian, Farid mengingatkan orang tua untuk tidak terburu-buru menyimpulkan anak mengalami gangguan belajar spesifik ketika masih berada di taman kanak-kanak.

Farid menekankan pentingnya stimulasi dan pengenalan huruf sejak dini. Jika anak mengalami kesulitan saat belajar mengenal huruf dan membaca di usia TK, orang tua dapat memberikan pembelajaran secara berulang dengan metode yang lebih terstruktur.

Apabila anak mengalami kesulitan belajar, Farid menyarankan orang tua berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru untuk mengetahui kondisi anak di lingkungan sekolah. Jika hambatan belajar berlangsung secara konsisten, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional agar anak memperoleh penilaian dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya.

(Syahrani Alyssia Tunggadewi - Universitas Negeri Jakarta berkontribusi menyusun artikel ini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....