Warga Keluhkan Sesak Napas setelah Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar
- 07 Sep 2026 12:40 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi menyebar hingga enam provinsi di Jawa dan Sumatra. Di Jakarta, sejumlah warga melaporkan mata perih dan gangguan pernapasan.
- Warga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, gunakan masker KN95, KF94, atau N95, kacamata pelindung, pakaian tertutup, serta segera mandi dan mengganti pakaian setelah kembali.
- Satpol PP Jakarta Pusat membagikan 4.000 masker, sementara Pemprov DKI mengimbau pengurangan aktivitas luar ruangan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan menjangkau hingga enam provinsi di Pulau Jawa dan Sumatra. Sejumlah masyarakat di wilayah terdampak, salah satunya di Jakarta melaporkan gangguan kesehatan seperti sesak napas dan rasa perih pada mata setelah terpapar abu vulkanik.
Salah satu warga, Anto Sudrajat, 45, mengaku merasakan adanya gangguan pada pernapasan dan mata setelah abu vulkanik terpantau. “Kalau biasanya saya naik motor tidak sakit mata saya walaupun tidak saya tutup kaca helmnya. Nah, ini semenjak adanya abu Anak Gunung Krakatau jadi sedikit perih,” kata Anto seperti dilaporkan kontributor RRI Jakartam Mayzka Da Reisa pada Senin, 7 September 2026.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu, 6 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengidentifikasi dua lapisan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin. Sebaran abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama mengatakan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan mulai dari hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Paparan juga dapat menyebabkan mata merah, berair, gatal, serta menimbulkan iritasi pada kulit.
“Yang akut itu biasanya saluran pernapasan dari atas sampai ke bawah. Mulai dari hidung, tenggorokan, bisa ke paru-paru. Mata juga merah, berair, gatal, sama kulit,” ujar Ngabila dalam wawancara dengan radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Menurut Ngabila, masyarakat perlu mencegah paparan abu vulkanik secara langsung dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker KN95, KF94, atau N95 yang dapat menyaring partikulat berukuran kecil.
“Kalaupun terpaksa keluar rumah, harus pakai masker KN95, KF94, atau N95 karena itu menghalau partikulat yang sekecil mungkin,” kata Ngabila.
Ngabila juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker secara tepat dengan menutup hidung, mulut hingga dagu. Masker perlu dipastikan cukup rapat untuk mengurangi celah masuknya abu vulkanik, sedangkan masker yang sudah lembap atau basah perlu segera diganti.
Selain menggunakan masker, masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari paparan abu. Warga juga disarankan mengenakan pakaian tertutup dan segera mandi serta mengganti pakaian setelah kembali ke rumah.
Sementara itu, Satpol Polisi Pamong Praja atau Satpol PP Jakarta Pusat membagikan 4.000 masker kepada masyarakat di 44 kelurahan pada Senin, 7 September 2026. Pembagian dilakukan di sejumlah lokasi dengan mobilitas tinggi, seperti Bundaran Hotel Indonesia, pasar, stasiun kereta api, permukiman, dan ruas jalan.
Kasatpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean mengatakan pembagian masker dilakukan sebagai langkah antisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat. “Hari ini kita bagikan 4.000 masker ke masyarakat. Pembagian masker tersebar di seluruh wilayah Jakarta Pusat oleh petugas,” ujar Purnama.
Di Jakarta Utara, Kontributor RRI Jakarta Syamsudin Ilyas melaporkan sejumlah warga di Jalan Kalibaru, Cilincing, terlihat menggunakan masker saat beraktivitas. Debu juga terlihat menempel pada sejumlah kendaraan yang terparkir di kawasan tersebut.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan abu vulkanik kepada masyarakat. Pada Minggu, 6 September 2026, waktu pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor dipercepat dari pukul 10.00 menjadi pukul 09.00 WIB dan masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk melindungi masyarakat dari potensi paparan abu vulkanik. “Kami mengajak masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, guna mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan,” ucap Budi.
Ngabila meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap memantau kondisi dalam beberapa hari ke depan. Warga yang mengalami sesak napas, batuk, pilek, iritasi mata atau kulit, penyakit pernapasan yang kambuh, maupun pusing kepala hebat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.
“Jangan panik, terus waspada. Kita pantau tiga sampai lima hari ke depan,” kata Ngabila.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga setelah episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....