Ini Tips Mencegah Gangguan Pernapasan saat Musim Kemarau

  • 14 Agt 2026 13:38 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Musim kemarau meningkatkan risiko gangguan pernapasan masyarakat melalui peningkatan paparan polusi udara dan debu yang terhirup ke saluran pernapasan.
  • Prof. Budi Haryanto dari Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia menegaskan bahwa gangguan pernapasan akibat polusi udara tidak hanya terbatas pada ISPA tetapi mencakup berbagai kondisi kesehatan lainnya.
  • Paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi langsung pada saluran pernapasan dan merupakan masalah kesehatan lingkungan yang serius selama musim kemarau.

RRI.CO.ID, Jakarta - Musim kemarau dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan akibat meningkatnya paparan polusi udara. Debu dan berbagai polutan yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan.

Dilansir dari Antara, pada Jumat 14 Agustus 2026, Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc., mengatakan bahwa gangguan pernapasan dapat terjadi akibat paparan polusi udara. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga berbagai gangguan lainnya.

“Gangguan saluran pernapasan karena itu mencakup semua, tidak hanya ISPA ya. Segala macam reaksi pada saat terpapar dalam jangka dekat, dalam waktu dekat,” kata Prof. Budi.

Ia menjelaskan, gejala gangguan pernapasan akibat paparan polusi dapat berupa batuk, pilek, iritasi tenggorokan, hingga hidung tersumbat. Jika kondisi semakin parah, seperti mengalami kesulitan bernapas, dada terasa sakit, jantung berdebar, atau pusing, maka masyarakat disarankan untuk segera mendapatkan penanganan medis.

Untuk mencegah gangguan pernapasan, masyarakat dapat menggunakan masker dan memantau kualitas udara agar dapat mengurangi paparan polusi. Selain itu, masyarakat juga disarankan mengurangi masuknya polutan ke dalam rumah serta menggunakan pendingin atau pembersih udara jika diperlukan.

Prof. Budi juga mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin dan serat. Upaya pengendalian polusi juga perlu dilakukan dengan mencegah pembakaran sampah sembarangan, mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, serta mengurangi emisi kendaraan dan kegiatan industri.

(Andini Amelia Wiguna - Mahasiswa Universitas Gunadarma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....