Rokok Disebut Perburuk Kesehatan Mental dan Ancam Tumbuh Kembang Anak

  • 03 Agt 2026 12:24 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Merokok tidak efektif mengatasi stres karena nikotin hanya memberikan kenyamanan sesaat dan membentuk siklus ketergantungan yang memperburuk kesehatan mental.
  • Nikotin memicu pelepasan dopamin di otak sehingga perokok merasa tenang dalam waktu singkat, namun efek ini bersifat sementara.
  • Gejala withdrawal nikotin seperti gelisah, cemas, dan sulit berkonsentrasi sering disalahartikan sebagai stres oleh perokok.

RRI.CO.ID, Jakarta – Praktisi kesehatan masyarakat Ngabila Salama mengingatkan bahwa merokok bukan cara yang efektif untuk mengatasi stres. Menurutnya, nikotin hanya memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi justru membentuk siklus ketergantungan yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental.

Ngabila menjelaskan nikotin memicu pelepasan dopamin di otak sehingga perokok merasa lebih tenang dalam waktu singkat. Namun, saat kadar nikotin menurun, muncul gejala seperti gelisah, cemas, dan sulit berkonsentrasi yang sering disalahartikan sebagai stres.

"Nikotin memang dapat memberikan rasa nyaman sesaat karena memicu pelepasan dopamin di otak. Namun efek ini hanya berlangsung singkat dan justru menciptakan siklus kecanduan. Berhenti merokok terbukti memperbaiki kesehatan mental dalam jangka panjang," kata Ngabila.

Ia menambahkan, kebiasaan merokok juga dapat memperburuk kondisi ekonomi keluarga, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah. Pengeluaran untuk rokok berpotensi mengurangi anggaran kebutuhan penting seperti pangan bergizi, pendidikan, imunisasi, dan layanan kesehatan.

Menurut Ngabila, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan, hingga stunting pada anak. Selain itu, anak yang terpapar asap rokok juga lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan berulang yang dapat menghambat tumbuh kembang.

"Risiko kesehatan akan semakin besar apabila masyarakat dengan kondisi gizi dan sanitasi yang kurang baik juga terpapar asap rokok secara terus-menerus. Kombinasi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap penyakit seperti ISPA, pneumonia, tuberkulosis, penyakit jantung, stroke, kanker, hingga penyakit paru obstruktif kronis," ujarnya.

Ia juga mengingatkan ibu hamil, anak-anak, dan lansia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan asap rokok. Karena itu, upaya mengurangi atau berhenti merokok dinilai menjadi investasi kesehatan sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ngabila mengimbau masyarakat memilih cara yang lebih sehat untuk mengelola stres, seperti berolahraga, tidur yang cukup, berbicara dengan keluarga atau teman, beribadah sesuai keyakinan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....