Konsumsi Gula Tambahan Berlebihan Dapat Ganggu Kesehatan Usus

  • 28 Jul 2026 21:49 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Konsumsi gula tambahan yang berlebihan dan berkelanjutan dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma di dalam usus manusia.
  • Ketidakseimbangan mikrobioma memungkinkan bakteri kurang bermanfaat berkembang dan mengalahkan bakteri baik di usus.

RRI.CO.ID, Jakarta - Mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan dan terus-menerus dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma di dalam usus. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dilansir dari Antara, seorang Ahli Gizi, Kara Hochreiter, mengatakan bahwa konsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus. Kondisi tersebut memungkinkan mikroba yang kurang bermanfaat, menjadi berkembang dan mengalahkan mikroba baik.

Gula tambahan merupakan gula yang ditambahkan ke dalam makanan selama proses pengolahan. Jenisnya dapat berupa gula tebu, dekstrosa, madu, sirup mapel, sirup beras merah, hingga sirup jagung.

Sementara itu, Ahli Gizi Jessie Wong, mengatakan bahwa asupan gula tambahan yang tinggi secara konsisten dapat mengubah lingkungan di dalam usus. Kondisi tersebut dapat memengaruhi bakteri yang menghasilkan asam lemak rantai pendek seperti butirat.

Asam lemak rantai pendek membantu menjaga kesehatan sel-sel yang melapisi usus. Jenis asam lemak tersebut juga dikaitkan dengan tingkat peradangan yang lebih rendah serta kesehatan sistem kekebalan tubuh dan jantung.

Konsumsi gula tambahan yang tinggi juga dapat berkontribusi terhadap ketidakseimbangan mikrobioma atau disbiosis serta peningkatan permeabilitas usus. Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian pada pola makan tinggi makanan ultra-olahan yang umumnya mengandung gula tambahan tinggi dan rendah serat.

Ketika makanan tinggi gula tambahan menggantikan buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, bakteri baik di dalam usus dapat memperoleh lebih sedikit nutrisi. Akibatnya, keanekaragaman mikroba dalam usus dapat berkurang.

Meski demikian, respons setiap orang terhadap gula tambahan dapat berbeda karena mikrobioma usus setiap orang bersifat unik. Membatasi makanan dengan kadar gula tambahan tinggi dan menerapkan pola makan bergizi seimbang dinilai lebih baik untuk menjaga kesehatan usus.

(Maria Angela Santa Natahsya Renggi - Universitas Bunda Mulia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....