Pentingnya Kesiapan dalam Menghadapi Fase Perimenopause pada Perempuan

  • 26 Jul 2026 14:35 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Perempuan usia 40-an mengalami berbagai perubahan tubuh termasuk siklus menstruasi tidak teratur, sulit tidur, mudah lelah, perubahan suasana hati, dan kenaikan berat badan yang merupakan tanda-tanda perimenopause.
  • Setelah melahirkan, banyak perempuan terlalu fokus pada peran sebagai ibu, istri, dan profesional sehingga mengabaikan perubahan pada tubuh mereka sendiri.
  • Mengenali dan memahami perubahan tubuh merupakan langkah kritis untuk menjalani proses penuaan dengan sehat, nyaman, dan bahagia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Memasuki usia 40-an, banyak perempuan mulai mengalami perubahan. Seperti siklus menstruasi tidak teratur, sulit tidur, mudah lelah, perubahan suasana hati, hingga kenaikan berat badan.

Setelah melahirkan, banyak perempuan justru lebih fokus menjalankan berbagai peran sebagai ibu, istri, maupun profesional. Hal ini sering kali menyebabkan perempuan mengabaikan perubahan pada tubuhnya. Padahal, mengenali dan memahami perubahan tubuh merupakan langkah penting agar dapat menjalani proses penuaan dengan sehat, nyaman, dan bahagia.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Martina Hutabarat, menjelaskan bahwa perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai dengan fluktuasi hormon estrogen dan progesteron. Rata-rata perempuan mulai memasuki fase perimenopause pada usia sekitar 47,5 tahun, sementara menopause umumnya terjadi pada usia 51,3 tahun.

Sementara itu, Dokter Rehabilitasi Medik, Gustiawaty Army, menekankan pentingnya aktivitas fisik dan kesehatan mental pada perempuan menopause. Mereka umumnya merasakan gangguan pada dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Menurutnya, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap memiliki peran penting dalam menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, serta membantu mengurangi berbagai gejala perimenopause.

Selain perubahan fisik, perempuan pada masa perimenopause juga menghadapi perubahan emosional yang sering kali bertepatan dengan berbagai tantangan kehidupan. Mulai dari tuntutan pekerjaan, anak yang mulai mandiri, orang tua yang menua, hingga perubahan pada tubuh dan hubungan sosial.

"Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup. Karena itu, penting bagi perempuan untuk mengelola stres melalui langkah sederhana seperti metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu),” kata Dokter Spesialis Kejiwaan, Leonita Ariesti Putri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....