Dissociative Identity Disorder: Istilah Gangguan Psikologis Kompleks
- 28 Apr 2026 21:33 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Dissociative Identity Disorder atau DID merupakan istilah yang dulu dikenal sebagai kepribadian ganda. Gangguan psikologis ini cukup kompleks karena berhadapan dengan dua atau lebih identitas yang berbeda. Masalah mental ini juga turut melibatkan ketidaksesuaian antara memori dan pikiran yang berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Dilansir dari laman resmi hellosehat.com pada Selasa, 28 April 2026, setiap identitas yang dimiliki penderita mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, seperti nama, usia, hingga gender. Identitas asli disebut dengan kepribadian inti, sementara yang lainnya adalah kepribadian alternatif. Ketika kepribadian alternatif muncul, penderita sering mengalami amnesia dan tidak menyadari kehadiran hingga tindakan yang dilakukan oleh identitas tersebut.
Banyak penderita DID tidak menyadari bahwa dirinya memiliki gangguan psikologis tersebut. DID ditandai dengan adanya perasaaan derealisasi (perasaan asing atau tidak nyata terhadap lingkungan), disosiasi (terlepas dari dunia di sekitarnya), serta depersonalisasi (sensasi seolah ia sedang berada di luar tubuhnya sendiri).
Gejala lain yang sering diabaikan meliputi sakit kepala, nyeri tubuh, gelisah, cemas, perubahan suasana hati, depresi, hingga mimpi buruk atau sleepwalking. Menurut American Psychiatric Association, sekitar 90 persen kasus DID dipicu oleh peristiwa traumatis seperti kekerasan seksual, penelantaran, pengalaman perang, kecelakaan, isolasi yang berkepanjangan, kehilangan orang terdekat, atau benca alam.
Meski beberapa kasus menyatakan bahwa gangguan identitas disosiatif atau DID ini tidak memiliki dampak yang negatif, namun jika tidak terkelolah dengan baik bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Penderita rentan terlibat penyalahgunaan obat-obatan terlarang hingga berisiko jiwa.
Dokter mendiagnosis melalui pemeriksaan fisik dan tes psikiatri untuk mengetahui adanya gejala-gejala DID pada pasien. Pengobatan mencakup terapi perilaku kognitif guna mengubah pola pikir dan menemukan penyebab utama kehadiran DID, terapi perilaku dialektika untuk korban pelecehan seksual dengan tujuan membangun pandangan positif, serta eye movement desensitization and reprocessing untuk memproses kembali peristiwa traumatis di masa lalu.
Untuk mencegah risiko gangguan identitas disosiatif ini, perlu belajar mengelola stres dengan melakukan metidasi. Selain itu juga bisa menerapkan pola hidup sehat (waktu tidur yang cukup, pola makan teratur, dan olahraga rutin), serta belajar untuk lebih membuka diri pada orang terdekat atau psikolog tentang pengalaman traumatis.
(Susanti Ramadhan – Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)Itu
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....