PTSD Mengintai Kesehatan Mental Gen Z
- 22 Apr 2026 17:37 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Kesadaran akan kesehatan mental di kalangan generasi muda semakin meningkat, termasuk terhadap gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang bersifat traumatis atau sangat tidak menyenangkan.
Dilansir dari laman alodokter.com, pada Rabu 22 April 2026, PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh korban perang, tetapi juga bisa dialami oleh Gen Z akibat pengalaman traumatis dalam kehidupan sehari-hari.
Trauma yang memicu PTSD pada Gen Z bisa berasal dari berbagai hal. Seperti kekerasan dalam hubungan, perundungan (bullying), tekanan keluarga, hingga pengalaman kehilangan orang terdekat. Bahkan, paparan konten negatif secara terus-menerus di media sosial juga dapat memperburuk kondisi psikologis mereka.
Gejala PTSD seringkali tidak disadari. Beberapa di antaranya adalah mimpi buruk, kilas balik kejadian traumatis, kecemasan berlebih, sulit tidur, hingga menghindari situasi yang mengingatkan pada trauma. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk mendiagnosis PTSD, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tahu apakah gejala yang dialami disebabkan oleh penyakit fisik. Jika tidak terdapat penyakit fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan mental pasien.
Banyak Gen Z yang masih ragu untuk mencari bantuan karena takut dianggap lemah atau berlebihan. Padahal, memahami kondisi mental sendiri merupakan langkah penting untuk pemulihan. Dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh dalam membantu mereka menghadapi trauma.
Para ahli menyarankan agar individu yang mengalami gejala PTSD segera mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor. Terapi yang tepat dapat membantu mengelola emosi dan mengurangi dampak trauma secara bertahap.
(Trisna Mutia Tihara – Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....