Mengenal Misogini, Kekerasan Tak Kasatmata yang Merugikan Perempuan

  • 16 Apr 2026 01:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Misogini berasal dari bahasa Yunani kuno, miso yang berarti “benci”, dan gyne yang berarti “wanita”. Misogini bukan lagi menjadi hal asing saat ini, sebab tindakan misogini sudah marak di masyarakat.

Dikutip dari laman resmi halodoc.com pada Rabu, 15 April 2026, misogini merupakan ujaran kebencian, ketidaksukaan, atau prasangka ekstrem terhadap perempuan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan sistem patriarki, yakni sistem yang memposisikan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dalam mendominasi kepemimpian politik, otoritas moral, hak sosial, serta penguasaan properti.

Istilah misogini menyiratkan bahwa perempuan memiliki posisi lebih rendah dibandingkan laki-laki. Bentuk tindakan nyata misogini sangat beragam, mulai dari sikap merendahkan, pembatasan kesempatan, diskriminasi gender, hingga kekerasan fisik. Namun tindakan misogini tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, perempuan pun bisa menginternalisasi pandangan tersebut terhadap sesama perempuan atau diri sendiri akibat pengaruh lingkungan.

Ciri-ciri misogini yang umum meliputi anggapan bahwa perempuan tidak kompeten, tidak rasional, dan tidak pantas menduduki posisi kepemimpian yang setara dengan laki-laki. Akibatnya, pendapat perempuan sering kali diabaikan bahkan disela dalam ruang diskusi.

Tindakan misogini yang sedang marak saat ini adalah menjadikan perempuan sebagai objek pemuas hasrat seksual, sambil mengabaikan sisi kemanusian, emosi, serta intelektualnya. Hal ini sering terlihat dari cara laki-laki memandang tubuh perempuan atau saat berbicara dengannya.

Di dunia pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan publik, kesempatan perempuan untuk bersinar sering terhambat hanya karena gender. Bentuk ekstremnya mencakup kekerasan fisik, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, hingga ujaran kebencian di ranah digital.

Pada beberapa kasus, para pelaku misogini tampak seperti “pro-perempuan” di depan umum, tetapi di belakang layar justru berperilaku sebaliknya dengan perlakuan merugikan perempuan. Sikap para pelaku tidak serta merta terjadi secara instan, melainkan dibentuk oleh faktor-faktor kompleks.

Penyebab misogini dapat berasal dari trauma masa lalu yang melibatkan sosok perempuan, seperti pengabaian atau kekerasan dari ibu, sehingga memicu kebencian yang digeneralisasi. Anak yang tumbuh di lingkungan dengan sistem patriarki cenderung menormalisasi perilaku merendahkan perempuan. Selain itu, pemahaman keliru tentang ajaran budaya dan agama sering dijadikan justifikasi untuk menempatkan perempuan di posisi lebih rendah.

Misogini, ginofobia, dan misandri sering dianggap sama, padahal dalam ranah psikologi sosial, ketiganya memiliki makna yang berbeda secara fundamental. Misogini lebih menekankan prasangka sosial terhadap karakter perempuan, sedangkan ginofobia merupakan gangguan kecemasan dengan rasa takut irasional serta panik ketika berhadapan dengan perempuan–tanpa selalu disertai kebencian. Kebalikan dari misogini adalah misandri, yakni kebencian terhadap laki-laki.

Dampak yang dialami oleh para korban dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan kecemasan hingga depresi akibat merasa tidak dihargai dan kehilangan kepercayaan diri. Tindakan pelecehan atau kekerasan akan meninggalkan trauma mendalam, sehingga korban akan menarik diri dari lingkungan sosial untuk menghindari perlakuan buruk.

Oleh karena itu, misogini adalah masalah serius yang menggabungkan aspek psikologi dan sosiologis, dengan dampak nyata pada kesejahteraan individu. Bagi pelaku, diperlukan pengubahan pola pikir melalui edukasi untuk mengatasi trauma dan keyakinan yang salah. Bagi korban yang mengalami depresi, trauma, atau kecemasan, perlu konsultasi dengan profesional seperti psikolog atau psikiater.

(Susanti Ramadhan – Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....