Overthinking Meningkat saat Kesepian?

  • 23 Apr 2026 13:21 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Psikolog Jeffrey Bernstein menguraikan tiga hal yang menyebabkan overthinking cenderung memburuk ketika seseorang berada dalam kesendirian. Dilansir dari antaranews.com, pada Kamis 23 April 2026, Bernstein menyebut bahwa overthinking sejatinya terjadi ketika pikiran terus berputar, tanpa ada sesuatu dari luar yang bisa menghentikannya. Ketika sendirian, otak kehilangan tiga hal sekaligus, yakni pemeriksaan realitas, kalibrasi emosional, dan gangguan yang bisa memutus rantai pikiran negatif. Alhasil, berbagai skenario buruk, seperti ketakutan akan kegagalan, hingga kekhawatiran soal penilaian orang lain, tumbuh begitu saja tanpa batas.

Sementara itu, dilansir dari idionline.org, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga menggambarkan overthinking sebagai proses berpikir yang berulang dan tidak produktif. Apabila kondisi ini dibiarkan terus-menerus, maka dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi. Hal tersebut kemudian berdampak pada kesehatan fisik, hubungan sosial, dan produktivitas sehari-hari.

Untuk menjelaskan fenomena ini lebih jauh, Bernstein meminjam konsep social buffering dari psikologi sosial, sebuah gagasan bahwa kehadiran orang lain secara alami berfungsi sebagai peredam bagi pikiran yang bergolak. Ia merumuskan tiga penyebab utama mengapa kesendirian menjadi lahan subur bagi overthinking.

Penyebab pertama adalah bahwa melihat orang lain dapat memutus lingkaran pikiran yang tak berkesudahan, karena saat seseorang terjebak dalam overthinking, terus memikirkannya justru kontraproduktif dan membuat otak tetap dalam mode waspada tinggi. Kehadiran orang lain, terutama yang tenang, mampu mengalihkan perhatian dan menstabilkan sistem saraf, bahkan seperti yang dilakukan Bernstein dengan berjalan di tempat ramai untuk meredakan pikirannya.

Penyebab kedua adalah kesendirian yang dapat mendistorsi cara pandang terhadap masalah, sehingga hal kecil terasa seperti bencana besar dan satu kesalahan seolah mencerminkan keseluruhan diri, bahkan meluas ke penyesalan masa lalu dan kekhawatiran masa depan. Namun, saat berada di tengah orang lain, perspektif menjadi lebih luas karena disadarkan bahwa setiap orang memiliki pergulatan masing-masing dan masalah tersebut hanyalah sebagian kecil dari kehidupan.

Penyebab ketiga adalah ketidakaktifan, di mana saat seseorang tidak melakukan apa pun, pikiran justru mengisi kekosongan dengan keraguan dan stagnasi yang memperkuat siklus overthinking. Untuk mengatasinya, Bernstein menawarkan metode PACE, yaitu pause (berhenti sejenak), acknowledge (mengakui kondisi), contain (menahan dorongan menyelesaikan semuanya sekaligus), dan engage (kembali beraktivitas meski terasa tidak nyaman).

IDI menekankan pentingnya langkah praktis, seperti membatasi waktu berpikir, menggali akar masalah, fokus pada solusi, melatih relaksasi, serta berbagi cerita dengan orang terdekat untuk mengatasi overthinking. Dukungan sosial tidak hanya meringankan beban pikiran, tetapi juga membuka perspektif baru. Apabila kondisi semakin menggangu, maka disarankan untuk mencari bantuan professional, seperti psikolog.

(Kerin Driyana - Mahasiswa Universitas Nasional)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....