Lima Keterampilan Psikologis untuk Masa Depan Anak

  • 21 Apr 2026 09:33 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Anak-anak yang sering dianggap paling sukses di kemudian hari, ternyata tidak selalu memiliki kemampuan menghafal fakta yang luar biasa sejak dini. Sebaliknya, mereka yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi, berpikir kritis, dan mengelola emosi dengan baik cenderung lebih siap menghadapi tantangan hidup.

Dikutip dari antaranews.com, mereka yang sukses, seringkali adalah anak-anak yang memiliki kemampuan untuk berhenti sejenak dan merefleksikan diri, sehingga dapat pulih dan beradaptasi dengan baik dalam menghadapi tantangan. Dengan kemampuan ini, mereka dapat bertahan dengan suatu masalah dalam waktu lama dan akhirnya menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.

Para psikolog telah mengidentifikasi bahwa kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian dari fungsi eksekutif dan regulasi diri, yaitu sistem internal otak yang kompleks. Fungsi ini memungkinkan individu untuk mengelola informasi, membuat keputusan yang tepat, mengendalikan impuls, dan merencanakan ke depan dengan lebih efektif.

Kemampuan ini memainkan peran penting dalam membentuk respons anak terhadap tantangan, mengelola emosi mereka, dan menentukan bagaimana mereka bertahan ketika menghadapi kesulitan. Dengan demikian, kemampuan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan dan kesuksesan anak di masa depan.

Kabar baiknya, keterampilan ini bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan sejak lahir, melainkan dapat dikembangkan dan ditingkatkan melalui proses belajar dan latihan yang konsisten. Dengan demikian, anak-anak memiliki kesempatan untuk membangun dan memperkuat kemampuan ini seiring waktu, sehingga meningkatkan potensi mereka untuk sukses di masa depan.

Berdasarkan laporan Times of India, pada Senin 20 April 2026, lima keterampilan psikologis penting yang perlu dipelajari anak sejak dini untuk meningkatkan potensi kesuksesan mereka, salah satunya adalah berhenti sejenak sebelum bereaksi. Anak yang belajar berhenti sejenak sebelum menjawab, mengambil sesuatu, atau bereaksi keras pada dasarnya sudah mulai membangun pengendalian diri, karena jeda tersebut menjadi momen aktif ketika otak memilih respons terbaik alih-alih sekadar mengikuti impuls. Pentingnya kemampuan ini ditegaskan oleh penelitian perkembangan anak dari Harvard yang menempatkan pengendalian diri sebagai inti dari fungsi eksekutif, bersama dengan memori kerja dan fleksibilitas mental.

Keterampilan psikologis lainnya ialah menamai perasaan. Anak-anak tidak memiliki kosakata emosi yang lengkap sejak lahir, sehingga penting untuk membantu mereka mengenali dan menamai perasaan sejak dini. NHS menyarankan orang tua menyebutkan emosi yang mungkin dirasakan anak, seperti senang, sedih, atau marah, agar mereka belajar mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dengan lebih baik.

Anak yang mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya cenderung lebih mampu mengelola emosi dan tidak mudah "terlalu emosional".

Kemudian, meminta bantuan tanpa rasa malu. Anak yang memahami bahwa kesulitan bukanlah kegagalan dan bisa mencari dukungan dari orang lain selain orang tua, seperti kakek-nenek, guru, atau konselor, akan lebih siap menghadapi tantangan. Mereka belajar bahwa meminta bantuan adalah langkah bijak dan dukungan bisa datang dari berbagai sumber. Anak yang memahami bahwa kesulitan bukanlah kegagalan dan bisa mencari dukungan dari orang lain selain orang tua, seperti kakek-nenek, guru, atau konselor, akan lebih siap menghadapi tantangan. Mereka belajar bahwa meminta bantuan adalah langkah bijak dan dukungan bisa datang dari berbagai sumber.

Lalu, menggunakan kata “belum”. Anak yang mengatakan "Saya belum bisa" menunjukkan pola pikir berkembang, karena mereka percaya kemampuan bisa ditingkatkan dengan usaha. Sebaliknya, "Saya tidak bisa" sering kali mencerminkan sikap putus asa. American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa pola pikir berkembang, membantu siswa tetap termotivasi saat menghadapi tantangan dan dapat meningkatkan prestasi akademik mereka. Poin utamanya adalah mengembangkan mindset bahwa kemampuan bisa ditingkatkan melalui usaha dan latihan, bukan sekadar optimisme tanpa dasar. Ini membantu anak lebih siap menghadapi tantangan dan terus berkembang.

Selanjutnya adalah belajar bahwa kesalahan adalah informasi. Banyak anak merasa kesalahan sebagai kegagalan, padahal seharusnya orang dewasa membantu mereka melihat kesalahan sebagai kesempatan belajar dan petunjuk untuk berkembang. APA menekankan pentingnya memuji usaha dan proses belajar, bukan hanya bakat alami. Dengan begitu, anak akan lebih berani menghadapi tantangan dan tidak takut gagal.

(Annisa Dwi Ramadhani – Universitas Ibnu Chaldun)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....