World Space Week 2026: Kenapa Roket Disebut Mengubah Akses Antariksa?
- 07 Okt 2026 15:59 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- World Space Week 2026 berlangsung 4–10 Oktober dengan tema “Rocket Revolution”.
- Roket yang dapat digunakan kembali dan peluncur komersial mengubah akses manusia ke antariksa.
- Pekan Astronomi Jakarta ikut membawa tema roket ke ruang edukasi melalui eksperimen roket air dan talkshow.
RRI.CO.ID, Jakarta – Roket tidak lagi sekadar kendaraan untuk membawa manusia dan satelit menembus atmosfer. Roket yang dapat digunakan kembali, serta tumbuhnya perusahaan antariksa komersial membuat akses ke orbit semakin terbuka dan mengubah cara manusia memanfaatkan ruang angkasa.
Perkembangan teknologi peluncuran ini menjadi perhatian pada World Space Week 2026 atau Pekan Antariksa Dunia yang berlangsung pada 4–10 Oktober 2026. Tahun ini, World Space Week mengangkat tema “Rocket Revolution”, yang menggambarkan perubahan besar dalam teknologi peluncuran dan semakin beragamnya pihak yang dapat terlibat dalam kegiatan antariksa.

Dari Roket Pemerintah ke Ekosistem Antariksa
Selama beberapa dekade setelah awal era antariksa, kemampuan mencapai orbit sangat terbatas. Peluncuran membutuhkan teknologi, infrastruktur, biaya, dan sumber daya yang hanya dimiliki oleh segelintir negara serta lembaga pemerintah.
Kini, peta tersebut mulai berubah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menjelaskan bahwa akses ke antariksa berkembang melalui perusahaan peluncuran komersial, teknologi roket yang dapat digunakan kembali, tim universitas, perusahaan rintisan, serta aktor negara baru. Perubahan itu turut menentukan siapa yang dapat mencapai antariksa, seberapa sering peluncuran dilakukan, dan untuk apa ruang angkasa dimanfaatkan.
Di sinilah makna “Rocket Revolution” menjadi lebih luas daripada sekadar perkembangan mesin roket. Revolusi tersebut berkaitan dengan perubahan biaya, frekuensi peluncuran, pelaku industri, dan semakin banyaknya aplikasi yang bergantung pada satelit serta wahana antariksa.
Presiden World Space Week Association Dennis Stone menjelaskan bahwa perkembangan teknologi peluncuran telah menurunkan biaya dan meningkatkan frekuensi penerbangan ke orbit. “The market... As prices come down, demand comes up,” ujar Stone dalam wawancara dengan The Planetary Society, menggambarkan hubungan antara penurunan biaya peluncuran dan munculnya permintaan serta pelaku baru di sektor antariksa.
Mengapa Roket yang Bisa Dipakai Lagi Penting?
Salah satu perubahan penting dalam industri antariksa adalah penggunaan kembali bagian roket. Dalam model lama, sebagian besar kendaraan peluncur dirancang untuk digunakan sekali sehingga setiap misi membutuhkan kendaraan baru.
Teknologi yang memungkinkan bagian tertentu roket kembali ke Bumi dan digunakan dalam penerbangan berikutnya mengubah perhitungan tersebut. Dampaknya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga berhubungan dengan biaya dan kemampuan meluncurkan lebih banyak muatan ke orbit.
Perubahan itu membuka peluang bagi semakin banyak misi. Satelit komunikasi, satelit pengamatan Bumi, wahana ilmiah, hingga misi manusia ke antariksa membutuhkan akses menuju orbit yang lebih rutin dan beragam.
Space.com mencatat perkembangan roket yang dapat digunakan kembali, kendaraan peluncur baru, dan pertumbuhan industri penerbangan antariksa komersial sebagai bagian penting dari perubahan tersebut. Media itu juga menempatkan World Space Week 2026 sebagai momentum untuk melihat bagaimana teknologi tersebut mengubah akses manusia menuju orbit.

Antariksa Makin Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Revolusi roket pada akhirnya tidak berhenti di tempat peluncuran. Semakin banyak satelit berada di orbit, semakin luas pula layanan berbasis antariksa yang menopang aktivitas manusia di Bumi.
Teknologi antariksa digunakan untuk komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, pengamatan permukaan Bumi, pemantauan lingkungan, penanggulangan bencana, hingga konektivitas. Karena itu, perubahan pada teknologi peluncuran dapat memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor yang menggunakan data dan layanan satelit.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan manfaat teknologi antariksa dalam konteks yang lebih luas. Lembaga-lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa menggunakan aplikasi antariksa untuk mendukung berbagai kegiatan, termasuk pembangunan berkelanjutan dan kerja sama internasional.
Mengapa World Space Week Diperingati 4–10 Oktober?
Pemilihan tanggal World Space Week bukan tanpa alasan. Pada 4 Oktober 1957, Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1, satelit buatan manusia pertama yang mengorbit Bumi dan menandai awal penting dalam sejarah era antariksa.
Tanggal 10 Oktober juga memiliki arti khusus karena pada 1967 Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, termasuk Bulan dan benda langit lainnya, mulai berlaku. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian menetapkan World Space Week sebagai peringatan tahunan melalui Resolusi 54/68 pada 6 Desember 1999.
Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada ilmuwan atau lembaga antariksa. World Space Week dirancang sebagai ruang edukasi yang dapat diikuti sekolah, museum, komunitas astronomi, lembaga antariksa, keluarga, hingga masyarakat umum untuk mengenal sains dan teknologi antariksa.
Jakarta Membawa Revolusi Roket ke Ruang Edukasi
Semangat tersebut terlihat dalam Pekan Astronomi Jakarta yang berlangsung pada 6–10 Oktober 2026. Planetarium Jakarta menghadirkan pameran astronomi, Planetarium Mini, peneropongan Matahari, eksperimen roket air, dan talkshow sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Rangkaian tersebut seperti dipublikasi Instagram @planetarioumjkt juga dilengkapi talkshow Rocket Revolution: Meet the Experts pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
The Planetary Society mencatat World Space Week 2026 sebagai perayaan yang mendorong sekolah, lembaga antariksa, museum, klub astronomi, keluarga, dan individu untuk menggunakan momentum tersebut dalam mengenalkan pencapaian manusia di ruang angkasa sekaligus menarik minat generasi muda terhadap sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....