BRIN Percepat Pengembangan Obat Infeksi Berbasis Kekayaan Hayati Indonesia
- 09 Agt 2026 05:52 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan kandidat obat penyakit infeksi berbasis kekayaan hayati Indonesia untuk memperkuat ketahanan farmasi nasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui International Symposium on Drug Discovery and Development di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026, yang mempertemukan peneliti Indonesia, Jepang, dan Malaysia.
Berdasarkan siaran pers, yang dikutip melalui Antara, Minggu 9 Agustsu 2026, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengatakan Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki potensi besar untuk menemukan senyawa terapeutik baru dari sumber daya hayati. Namun, potensi tersebut masih perlu ditranslasikan menjadi kandidat obat yang layak melalui riset dan pengembangan yang lebih terarah.
"Indonesia adalah negara megabiodiversitas dengan potensi besar untuk menemukan senyawa terapeutik baru dari kekayaan sumber daya hayati. Namun, mentranslasikan potensi tersebut menjadi kandidat obat yang layak masih menjadi tantangan yang perlu dipercepat melalui riset dan pengembangan," kata Amarulla.
Menurutnya, pengembangan obat penyakit infeksi menjadi semakin penting karena Indonesia masih menghadapi penyakit endemik seperti malaria, tuberkulosis, demam berdarah, dan amebiasis. Tantangan tersebut semakin kompleks akibat perubahan iklim, globalisasi, serta meningkatnya resistansi patogen.
Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap impor dalam sektor farmasi karena lebih dari 90 persen bahan baku dan bahan aktif farmasi yang digunakan industri farmasi nasional masih berasal dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong BRIN mengoptimalkan biodiversitas Indonesia sebagai sumber inovasi untuk mendukung kemandirian dan ketahanan farmasi nasional.
"BRIN berkomitmen mengurangi ketergantungan tersebut dengan memanfaatkan biodiversitas Indonesia secara lebih optimal melalui pengembangan teknologi kesehatan dan inovasi yang mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus menjawab tantangan kesehatan masyarakat," ujar Amarulla.
Amarulla menjelaskan pengembangan obat merupakan proses kompleks yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan institusi untuk menjembatani setiap tahapan penelitian. Tahapan tersebut mencakup penemuan senyawa, optimasi senyawa unggulan atau lead optimization, pengujian efektivitas in vivo, hingga evaluasi keamanan praklinis.
"Riset yang kita lakukan harus mampu menjembatani valley of death melalui riset translasional, optimasi senyawa unggulan, serta evaluasi keamanan dan efektivitas praklinis yang komprehensif," ucap Amarulla.
Ia berharap pemanfaatan biodiversitas lokal dan hasil riset tahap awal dapat menghasilkan kandidat terapi yang layak untuk penyakit infeksi endemik di Indonesia. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan dampak terhadap ketahanan kesehatan nasional sekaligus berkontribusi dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi secara global.
Senior Representative Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia Office Hiroyuki Matsuda mengatakan penyakit infeksi masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia. Meningkatnya ancaman resistansi obat membuat kebutuhan terhadap pengembangan kandidat obat baru semakin mendesak.
"Penemuan obat tidak dapat dicapai oleh satu peneliti atau satu institusi. Dibutuhkan kolaborasi erat lintas disiplin ilmu dan kemitraan yang saling berbagi pengetahuan," kata Hiroyuki, sebagaimana dikutip dari siaran pers.
Ia berharap simposium tersebut dapat memperkuat jejaring riset, khususnya bagi peneliti muda, serta membuka kolaborasi baru untuk mendukung pengembangan obat bagi penyakit infeksi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....