BRIN Kembangkan SWx AI untuk Prediksi Cuaca Antariksa Lebih Akurat

  • 12 Mei 2026 21:42 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi memperkenalkan Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI), sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan untuk memprediksi cuaca antariksa. Langkah inovatif ini diambil untuk menggantikan proses analisis manual yang selama ini memakan waktu lama dan rentan terhadap perbedaan hasil interpretasi antarpeneliti.

Dikutip dari pers releasenya Selasa 12 Mei 2026, melalui sistem ini, BRIN berharap penyediaan data cuaca antariksa di Indonesia dapat berjalan secara lebih otomatis, cepat, dan memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi.

"Sistem ini dirancang untuk membantu memprediksi aktivitas Matahari dan kondisi ruang angkasa yang dapat memengaruhi Bumi secara signifikan," ujar Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Tiar Dani. Ia menjelaskan bahwa cuaca antariksa memiliki dampak langsung pada teknologi modern, mulai dari gangguan operasional satelit, akurasi sinyal GPS, hingga kestabilan jaringan listrik nasional. Oleh karena itu, kehadiran asisten pintar berbasis Large Language Model (LLM) ini menjadi sangat krusial dalam memitigasi risiko tersebut.

Tiar Dani menambahkan bahwa SWx AI memiliki kemampuan otomatis dalam mengambil data terbaru dari berbagai sumber tanpa harus diperiksa satu per satu oleh manusia. "Sistem ini dirancang agar aman dari kesalahan informasi dengan membatasi data analisis pada rentang waktu 24 hingga 72 jam terakhir sesuai aturan yang telah ditentukan," ungkapnya saat menjelaskan teknis pengamanan sistem dari potensi kesalahan data. Hal ini memastikan bahwa hasil telaah kondisi antariksa di wilayah Indonesia tetap konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kepala PRA BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, menyatakan bahwa sistem ini merupakan bagian dari kerangka kerja Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS). Kehadiran SWx AI diharapkan mampu menjadi sistem peringatan dini yang efisien bagi berbagai pihak, termasuk akademisi, sesama periset, hingga masyarakat luas. Inovasi ini menunjukkan komitmen BRIN dalam melakukan riset yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan responsif terhadap tantangan teknologi masa depan.

Pengembangan teknologi ini juga menjadi sorotan utama dalam kolokium mingguan bertema “Automating Space Weather Services with Agentic AI” yang diselenggarakan pada Rabu (13/5). Diskusi tersebut menjadi wadah bagi para ahli untuk mengenalkan bagaimana AI dapat bekerja layaknya asisten pintar dalam membaca grafik pengamatan Matahari yang rumit. Dengan meminimalkan intervensi manual, potensi kesalahan manusia dalam menganalisis data angka yang kompleks dapat ditekan secara maksimal.

Masa depan layanan cuaca antariksa di Indonesia kini diprediksi akan jauh lebih responsif dalam mengantisipasi berbagai gangguan teknologi akibat aktivitas Matahari. Melalui penguatan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan, BRIN optimis Indonesia mampu mandiri dalam memantau kondisi ruang angkasa secara real-time. Pemanfaatan platform SWIFtS yang terintegrasi dengan AI ini menjadi bukti nyata bahwa riset antariksa nasional terus bergerak mengikuti perkembangan tren teknologi global.

Diharapkan, hasil riset terbaru ini dapat segera dimanfaatkan secara luas untuk mendukung operasional berbagai sektor yang bergantung pada teknologi berbasis satelit dan komunikasi. Kesadaran akan pentingnya informasi cuaca antariksa diharapkan terus meningkat seiring dengan ketergantungan manusia yang semakin besar pada perangkat digital. Dikutip dari siaran pers BRIN, inovasi ini menjadi tonggak penting dalam sejarah riset antariksa di tanah air menuju era otomatisasi yang cerdas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....