BRIN Dorong Ekonomi Sirkular lewat Riset dan Inovasi Daur Ulang Styrofoam

  • 19 Agt 2026 07:27 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengelolaan limbah Styrofoam agar tidak berakhir menjadi sampah, dengan cara diolah kembali dan memiliki nilai ekonomi. Upaya tersebut dilakukan melalui riset, pengembangan teknologi, penguatan kebijakan, dan kerja sama dengan industri.

Styrofoam atau Expanded Polystyrene (EPS) masih menjadi salah satu persoalan dalam pengelolaan sampah plastik karena pengumpulan dan proses daur ulangnya menghadapi berbagai kendala. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, penghasil sampah, pengumpul, pengolah, hingga industri pengguna bahan hasil daur ulang.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN Nugroho Adi Sasongko mengatakan pengelolaan Styrofoam harus dilakukan secara terintegrasi agar limbah tersebut dapat kembali dimanfaatkan. Menurutnya, pendekatan ekonomi sirkular memungkinkan material yang sebelumnya menjadi beban lingkungan diolah kembali menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi.

"Dalam seminar ini juga akan membahas kebijakan pengelolaan limbah Styrofoam secara nasional dan pengalaman implementasinya di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sebagai bahan untuk memahami kesenjangan, kebutuhan, dan peluang penguatan sistem pengelolaan," kata Nugroho, sebagaiaman dikutip dari siaran pers, Rabu 19 Agustus 2026.

Seminar yang dimaksud adalah seminar internasional yang digelar BRIN bersama TM R&C Co., Ltd. di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu 19 Agustus 2026. Forum tersebut menghadirkan perwakilan pemerintah, pemerintah daerah, industri, perusahaan asal Korea Selatan, dan periset BRIN untuk membahas pengelolaan Styrofoam dari sisi kebijakan hingga teknologi.

Nugroho menjelaskan pengelolaan Styrofoam perlu memperhatikan seluruh proses, mulai dari pengumpulan limbah hingga pemanfaatan kembali hasil daur ulang. Sistem tersebut mencakup pengumpulan, pemadatan, pengolahan, daur ulang, pemeriksaan kualitas material hasil daur ulang, hingga penggunaannya kembali oleh industri.

Menurutnya, keterhubungan setiap tahapan menjadi penting karena hasil daur ulang harus memiliki pengguna agar proses pengelolaan limbah dapat berjalan berkelanjutan. Karena itu, kerja sama antara penghasil limbah, pengumpul, pengolah, industri, pengguna bahan daur ulang, dan pemerintah perlu diperkuat.

"Seminar ini mengintegrasikan perspektif industri dan riset. Industri memberikan gambaran mengenai kebutuhan pasar, kesiapan penerapan, pemanfaatan material, serta tantangan implementasi. Sementara itu, BRIN menghadirkan inovasi riset daur ulang Polystyrene (PS) dan peluang kolaborasi R&D," ujar Nugroho.

Masih dari siaran pers, seminar tersebut menghadirkan lima narasumber yaitu Agus Rusly (Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular - Kementerian Lingkungan Hidup), Ahn, Sang-ho (CEO, TM R&C), Achmad Hariadi (Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu), Maharani S. Anggia (PT. Maxfos Prima) dan Ernie S.A. Soekotjo (Perekayasa Ahli Madya BRIN).

Dari sisi teknologi, BRIN bekerja sama dengan TM R&C Co., Ltd. dari Korea Selatan untuk membahas teknologi pengolahan Styrofoam. Teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan kolaborasi riset dan pengembangan dengan BRIN serta industri di Indonesia.

Kementerian Lingkungan Hidup membahas arah kebijakan pengelolaan limbah Styrofoam, sementara Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu memaparkan pengalaman penerapannya di daerah. Dari sisi industri dan riset, PT Maxfos Prima serta BRIN membahas kebutuhan industri dan pengembangan teknologi daur ulang Polystyrene.

Melalui forum tersebut, BRIN berharap muncul masukan untuk memperkuat kebijakan, agenda riset, dan kerja sama lintas sektor dalam pengelolaan Styrofoam. Tujuan akhirnya adalah membangun sistem yang membuat limbah dapat dikurangi, diolah kembali, dan dimanfaatkan sebagai bahan yang memiliki nilai ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....