Untar Gandeng Dua Kampus Internasional Rumuskan Solusi Hadapi Tantangan Global
- 21 Apr 2026 21:23 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Universitas Tarumanagara (Untar) menegaskan perannya dam jejaring akademik global melalui penyelenggaraan International Conference on Economics, Business, Social and Humanities (ICEBSH) 2026 di Busan, Korea Selatan.
Kegiatan yang mengusung tema "People, Planet and Technology: Building Resilient Future for Sustainable Development" ini berlangsung secara hibrida serta berkolaborasi dengan Kun Shan University, Taiwan dan Pusan National University, Korea Selatan yang bertindak sebagai tuan rumah.
Melalui tema tersebut, konferensi ini menjadi ruang strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk merumuskan solusi
lintas disiplin terhadap tantangan global.
Rektor Untar Prof. Dr. Amad Sudiro, S.H., M.H., M.Kn., M.M., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa tema yang diangkat mencerminkan urgensi peran bersama dalam menghadapi masa depan.
"Masa depan sangat bergantung pada bagaimana manusia mampu merawat sesama, menjaga kelestarian planet, serta memanfaatkan teknologi secara bijak," ujar Rektor dalam keterangan resminya, Selasa, 21 April 2026.
Lebih lanjut, Rektor menyoroti bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat, menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang perlu direspons secara kolaboratif. Melalui sinergi lintas bidang
ekonomi, ilmu sosial, dan teknik diharapkan dapat lahir solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga praktis dan berkelanjutan.
"Saya mendorong seluruh peserta untuk aktif berbagi gagasan, saling belajar, serta membangun kolaborasi yang kuat. Kerja sama global menjadi kunci dalam menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berdaya saing," katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untar Dr. Hetty Karunia Tunjungsari, S.E., M.Si. menegaskan bahwa konferensi ini diharapkan melampaui batas diskursus akademik.
“Kami berharap kontribusi ilmiah dalam ICEBSH dan ICASTE 2026 tidak hanya memperkaya wacana akademik, tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan publik, praktik industri, serta mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ucapnya.
Ditambahkannya, kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin menjadi kunci dalam menjawab kompleksitas tantangan global saat ini, serta menilai konferensi ini berperan sebagai katalis bagi terciptanya dialog yang bermakna, riset yang berdampak, dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Dalam sesi pleno, empat pembicara internasional menyampaikan gagasan strategis yang memperkaya perspektif peserta. Dr. Riela Provi Drianda menekankan bahwa pelestarian budaya perlu bertransformasi agar tetap relevan, dengan budaya populer sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan budaya sekaligus memperluas jangkauan melalui media modern.
Sementara itu, Dr. Linda Lin-chin Lin menegaskan bahwa keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan teknologi menjadi fondasi utama pembangunan berkelanjutan, di mana teknologi harus meningkatkan kualitas hidup tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Prof. Dr. Kuldeep K. Saxena menyoroti bahwa persoalan limbah elektronik dan mikroplastik merupakan tantangan global yang membutuhkan solusi kolaboratif dengan tetap mengedepankan tanggung jawab lingkungan. Adapun Prof. Ju-chul Jeong menekankan pentingnya pembangunan urban yang berkelanjutan dan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.
"Penyelenggaraan ICEBSH dan ICASTE 2026 ini diharapkan dapat menciptakan sinergi antara bidang sosial-humaniora dan sains-teknologi dalam satu platform kolaboratif, sekaligus membuka peluang kerja sama riset lintas negara yang lebih luas,” ujar Ketua Pelaksana Konferensi Nadia Ayu Rahma Lestari, S.T., M.Sc.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....