Ratusan Akademisi dari Kampus Mitra SEVIMA Tunjukkan Talenta Keamanan Siber

  • 18 Sep 2026 19:09 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kampus diharapkan melahirkan orang-orang yang mampu menggunakan ilmunya, untuk menyelesaikan persoalan nyata, dan mengikuti perkembangan teknologi
  • Melalui program bug bounty, SEVIMA membuka kesempatan bagi mahasiswa, dosen, dan tim IT dari kampus mitra, untuk ikut menguji keamanan platform pendidikan

RRI.CO.ID, Jakarta – Sambut Hari Sarjana Nasional, harapan terhadap insan perguruan tinggi Indonesia tidak cukup berhenti pada gelar akademik. Kampus juga diharapkan melahirkan orang-orang yang mampu menggunakan ilmunya, untuk menyelesaikan persoalan nyata, dan mengikuti perkembangan teknologi.

Semangat itu terlihat dalam SEVIMA Security Challenge (SSC) 2026. Melalui program bug bounty, SEVIMA membuka kesempatan bagi mahasiswa, dosen, dan tim IT dari kampus mitra, untuk ikut menguji keamanan platform pendidikan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Selama sekitar dua bulan, Juni sampai Agustus 2026, 41 tim dari 20 perguruan tinggi mengikuti pengujian terhadap siAkadCloud dan EdLink, platform sistem akademik dan pembelajaran dari SEVIMA. Dari 1.248 laporan yang masuk, setelah diverifikasi tim engineering SEVIMA, 308 laporan dinyatakan valid, dan telah maupun sedang ditindaklanjuti untuk perbaikan.

CEO SEVIMA, Sugianto Halim mengatakan, SSC bukan hanya kompetisi untuk mencari pemenang. Bagi SEVIMA, program itu menjadi kesempatan untuk mendapatkan sudut pandang baru, dari luar tim internal.

“Terima kasih sudah membantu kami belajar. Kami percaya keamanan sistem bukan sesuatu yang selesai satu kali, melainkan proses belajar terus-menerus. Cara belajar terbaik adalah mengundang orang lain, untuk mengujinya secara terbuka dan bertanggung jawab,” ujar Halim saat penutupan SSC 2026, di SEVIMA Headquarter, Surabaya, Kamis, 17 September 2026.

Halim mengakui, sebagian temuan peserta, merupakan hal-hal yang sebelumnya luput dari pengujian internal. Sebagai bentuk apresiasi, SEVIMA menyalurkan reward lebih dari Rp300 juta, kepada tim-tim yang temuannya dinyatakan valid, serta para penerima penghargaan SSC 2026.

“Bagi kami ini bukan biaya, melainkan investasi paling masuk akal, untuk keamanan data lebih dari 1.300 kampus, yang mempercayakan sistemnya kepada SEVIMA. Ini baru langkah pertama. Kami masih banyak belajar, dan kami berharap SSC bisa menjadi agenda rutin, bersama kampus-kampus mitra,” katanya.

SSC 2026 menjadi program bug bounty pertama SEVIMA, yang dibuka bagi mahasiswa, dosen, serta tim IT dari kampus mitra. Pengujian dilakukan pada siAkadCloud dan EdLink versi staging, menggunakan data dummy. Sistem produksi dan data operasional asli, berada di luar ruang lingkup pengujian.

Salah satu prestasi terbaik ditorehkan Tim Mirai Always Salty, dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tim itu keluar sebagai Juara 1 SSC 2026, dengan perolehan 8.570 poin.

Perwakilan Mirai Always Salty, Alfa Fakhrur Rizal Zaini, mengatakan pembagian peran menjadi salah satu kunci timnya selama kompetisi. Tim Mirai Always Salty juga memanfaatkan teknologi berbasis agentic AI, sebagai alat bantu untuk memetakan sistem dalam skala besar.

Prestasi lain ditorehkan Pemburu Gift Card dari Universitas Teuku Umar, Aceh Barat. Tim itu menempati posisi kedua dengan perolehan 5.360 poin. Perwakilan tim, Radja Aditya Chandra, mengatakan timnya memilih strategi untuk fokus pada area pengujian tertentu, dan mendalaminya secara konsisten.

Tim-tim terbaik kemudian datang langsung ke Surabaya, untuk menghadiri seremoni penghargaan. Peserta hadir dari berbagai daerah, termasuk Aceh, Padang, dan Jakarta. Capaian itu menunjukkan talenta keamanan siber, tumbuh di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Penganugerahan SSC 2026 dirangkai SEVIMA dengan workshop, bertajuk “Secure Campus Secure Future: Strategi Sukses dan Aman Terapkan Kurikulum OBE serta Digitalisasi”, di SEVIMA Headquarter, Surabaya. Workshop menghadirkan Prof. Dr. Ir. Joko Lianto Buliali, Prof. Wahyudi Agustiono, Ir. Ahmad Riyad Firdaus, serta Endang Kusmana. Kegiatan itu dihadiri pimpinan perguruan tinggi, pengelola akademik, serta pengelola teknologi informasi kampus.

Chief Information Officer (CIO) SEVIMA, Tirta Untario, mengatakan pengujian oleh tim internal tetap membutuhkan perspektif dari luar. “Kalau hanya tim internal, tetap butuh fresh eyes, fresh mind. Security is a process, not a product,” ucap Tirta.

Dalam hasil akhir SSC 2026, Mirai Always Salty dari ITS, meraih Juara 1 dengan 8.570 poin. Posisi kedua ditempati Pemburu Gift Card dari Universitas Teuku Umar dengan 5.360 poin. Posisi ketiga ditempati PDTI UMJ, dari Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan 4.190 poin. Penghargaan juga diberikan kepada Neicyy dari Universitas Metamedia, Padang, serta Rombongan Pencari Uang dari ITS.

Selain lima tim itu, tim lain yang menerima reward antara lain Anomali PNC, NSA-LR, Sabar, RKS Mencari Rejeki, Nemu Satu Pun Udah Lumayan, Insieme, serta Luck. Secara keseluruhan, 41 tim SSC 2026 berasal dari 20 perguruan tinggi (ITS, Politeknik Negeri Cilacap, STT Terpadu Nurul Fikri, UMJ, UNIBBA, UTU, Universitas Metamedia, Universitas Bosowa, Unram, UKI, Unpas, Universitas Paramadina, ITI, ULBI, UMNU Kebumen, USB YPKP, Universitas Bani Saleh, UTB, Untag Banyuwangi, hingga Universitas Atma Jaya Makassar).

Menyambut Hari Sarjana Nasional, SSC 2026 menjadi contoh, bagaimana insan perguruan tinggi, diberi ruang menggunakan kompetensinya pada persoalan nyata. Bagi SEVIMA, kolaborasi itu menjadi upaya membangun ekosistem pendidikan digital yang lebih aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....