Generasi Muda Antusias Baca Ulang Buku Afrizal Malna

  • 21 Agt 2025 23:20 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Antusiasme generasi muda terhadap sastra terlihat dalam diskusi publik buku “Sesuatu Indonesia” karya Afrizal Malna yang digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Kementerian Kebudayaan di Teater Asrul Sani, TIM, Rabu 20 Agustus 2025. Acara ini menggali kembali pemikiran Afrizal Malna tentang kebudayaan Indonesia dan relevansinya 25 tahun setelah terbit.

Afrizal Malna adalah sastrawan, penyair, dan esais yang dikenal dengan bahasa puitis khasnya serta kemampuan mengolah benda sehari-hari menjadi lanskap metaforis. Karya Sesuatu Indonesia (1999/2000) diunggah akun Instagram @jakartscouncil, menjadi salah satu esai terpentingnya, memotret Indonesia melalui fragmen urban dan tanda-tanda budaya pop secara kritis dan kreatif. Selain menulis, Afrizal juga aktif dalam seni pertunjukan, instalasi, dan proyek lintas disiplin, baik di dalam maupun luar negeri.

Diskusi menghadirkan Afrizal Malna bersama Fadjriah Nurdiarsih dan Zen RS sebagai pembicara. Selain menyoroti relevansi buku yang terbit 25 tahun lalu, forum ini juga memperlihatkan kehadiran mahasiswa dan anak muda yang mengetahui acara lewat media sosial.

Arifa, salah satu peserta, mengaku datang karena informasi yang ia temukan di Instagram. “Tau acara ini dari Instagram, kebetulan lewat di beranda dan karena tertarik dengan buku Malna yang baru pertama kali didengar Sesuatu Indonesia, jadi mau datang,” ujar Arifa.

Menurutnya, suasana diskusi terasa berbeda dengan forum non-sastra yang biasanya lebih kaku. “Diskusinya santai, tidak terlalu ketat, tapi banyak ilmu. Puisi itu bukan hanya kritik, tapi juga pemahaman tentang hubungan penulis dengan lingkungan sosial, politik, dan budaya,” ucapnya.

Peserta lain, Dzikri, yang merupakan mahasiswa sastra, menyebut acara ini sebagai kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan Afrizal Malna. “Buku beliau yang pertama saya baca bukan puisi, justru novelnya, Lubang dari Separuh Langit. Setelah itu penasaran juga dengan Sesuatu Indonesia yang ternyata tetap relevan dibaca sekarang,” kata Dzikri.

Dzikri menilai anak muda masih bisa menemukan makna baru dari karya lama. “Banyak insight tentang ekosistem puisi yang dibahas pembicara. Kang Zen RS bahkan bilang kondisi sastra sejak 2000an tidak banyak membaik sampai sekarang,” ucapnya.

(Salma Adhwa Nazhifah-Universitas Negeri Jakarta berkontribusi menyusun laporan ini).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....