Kilau Kenangan: sebelum Minimarket, Warung Jadi Andalan

  • 21 Sep 2026 10:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID. Jakarta - Dulu, ketika Ibu menyuruh membeli gula, kecap, atau sekadar jajanan, tujuan kita hampir selalu sama: warung tetangga. Jaraknya mungkin hanya beberapa langkah dari rumah, tetapi perjalanan singkat itu sering membawa pulang lebih dari sekadar barang belanjaan. Ada jajanan, obrolan, bahkan cerita kecil yang akhirnya menjadi kenangan.

Warung kelontong pernah menjadi bagian yang begitu dekat dengan keseharian masyarakat. Di sana tersedia berbagai kebutuhan sederhana, mulai dari gula, minyak goreng, sabun, kecap, hingga jajanan anak-anak. Sebelum minimarket hadir di banyak sudut kota, warung lingkungan menjadi tempat andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenangan itu kembali mengalir dalam program Kilau Kenangan RRI Jakarta bersama penyiar Mika Kartika. Salah satu pendengar, Bang Aby dari Radio Dalam, mengingat masa kecil ketika dirinya sering disuruh sang uwak berbelanja ke warung. Menariknya, yang paling ditunggu bukan hanya selesai berbelanja, tetapi kemungkinan mendapatkan uang kembalian untuk membeli permen.

Cerita lain datang dari Mbak Amy di Depok. Orang tuanya dulu memiliki toko kelontong sehingga sejak kecil ia terbiasa membantu menjaga warung. Dari sana, ia tidak hanya melihat aktivitas jual beli, tetapi juga menyaksikan tetangga datang, berbelanja, lalu mengobrol sebentar sebelum pulang. Warung pun menjadi bagian dari kehidupan sosial di lingkungan tempat tinggal.

Ada pula cerita tentang satu benda yang hampir identik dengan warung zaman dulu: buku utang. Buku kecil itu menjadi catatan kepercayaan antara pemilik warung dan pelanggan. Belanja hari ini bisa dibayar kemudian. Semuanya berjalan sederhana, tetapi hubungan yang terbangun di baliknya terasa begitu dekat.

Kisah para pendengar semakin beragam. Kak Intan dari Bekasi mengingat bagaimana dirinya sering dititipi tetangga ketika pergi ke warung. Niat awal hanya membeli satu atau dua barang, tetapi akhirnya pulang membawa beberapa kantong belanja. Sementara Bang Faiz dari Yogyakarta punya kenangan yang lebih unik: dulu ia sengaja berlama-lama memilih jajanan karena diam-diam ingin melihat anak pemilik warung. Cerita sederhana, tetapi justru detail seperti inilah yang membuat nostalgia terasa nyata.

Cerita lainnya datang dari Bang Fatih di Duren Sawit. Saat kecil, ia pernah lupa membeli gula karena bertemu teman yang sedang bermain kelereng. Sampai akhirnya sang ibu menyusul dan menanyakan apakah gulanya jadi dibeli. Ada pula Bu Wulan di Pekayon yang mengenang uang kembalian dari belanja bersama orang tuanya. Uang receh itu kemudian ditabung dalam celengan ayam hingga akhirnya bisa membeli tas sekolah. Kini, setelah menjadi orang tua, ia baru menyadari bahwa kebiasaan sederhana itu ternyata merupakan cara orang tuanya mengajarkan menabung sekaligus menghargai usaha anak.

Kini, ketika minimarket dan layanan belanja semakin mudah ditemukan, cara memenuhi kebutuhan sehari-hari memang berubah. Namun kenangan tentang warung tetangga tetap memiliki tempat tersendiri. Sebab yang dirindukan mungkin bukan hanya gula, permen, atau jajanan yang dulu dibeli, melainkan suasana ketika orang masih saling mengenal, saling menyapa, dan memiliki waktu untuk berbincang. Warung, dengan segala kesederhanaannya, pernah menjadi bagian kecil dari kehidupan sosial sebuah lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....