Meditasi Cinta Kasih sebagai Jalan Pulang di Bulan Ramadan

  • 02 Mar 2026 22:34 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pendiri Urban Spiritual Indonesia, Turita Indah Setyani, memimpin sesi meditasi dalam acara “Tadarus Cinta” yang menjadi bagian dari Majelis Nyala Purnama di Universitas Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Kebudayaan UI bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia ini berlangsung khidmat di *Makara Art Center, Jumat malam, 27 Februari 2026. Acara tersebut digelar untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan sekaligus membuka rangkaian Syiar Ramadan Kampus UI.

Dalam suasana hening dan penuh keberkahan, Turita mengajak peserta memasuki lingkaran meditasi bertema “Cinta Kasih untuk Semua”. Ia menegaskan bahwa Tadarus Cinta bukan sekadar membaca ayat suci, melainkan menghadirkan nilai kasih dalam kehidupan nyata. “Kita hadir bukan hanya untuk membaca ayat-ayat suci, tetapi juga untuk menadabburi, merasakan, dan menghidupkan cinta kasih dalam diri,” tuturnya lembut di hadapan para peserta.

Melalui panduan pernapasan yang tenang dan teratur, peserta diajak menyadari kehadiran Ilahi sebagai sumber kasih. Turita mengingatkan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. “Cinta kasih adalah nafas kehidupan. Ia bukan sekadar perasaan, tetapi energi ilahiah yang menghidupkan, menguatkan, dan menyatukan,” ujarnya. Dalam keheningan itu, peserta membisikkan afirmasi penerimaan diri: “Aku menerima diriku. Aku memaafkan diriku. Aku mengasihi diriku.”

Turita mengajak peserta memasuki lingkaran meditasi bertema “Cinta Kasih untuk Semua”. Ia menegaskan bahwa Tadarus Cinta bukan sekadar membaca ayat suci, melainkan menghadirkan nilai kasih dalam kehidupan nyata. (Foto : Turita)

Baca Juga : Tadarus Cinta Syiar Ramadan Penuh Kasih Dikampus UI

Baca Juga : Cinta Sebagai Sintesis Budaya dalam Ruang Ramadan

Lingkaran cinta kemudian diperluas, dari diri sendiri menuju keluarga, guru, sahabat, bahkan kepada mereka yang pernah berbeda pandangan. Peserta diajak melepaskan kebencian dan memilih kedamaian. “Kita tidak harus menyetujui semuanya, tetapi kita bisa memilih untuk melepaskan kebencian. Karena hati yang dipenuhi cinta, tidak menyisakan ruang bagi dendam,” ungkap Turita, mengajak hadirin merasakan keterhubungan sebagai satu nafas kehidupan.

Sesi meditasi ditutup dengan doa dan denting singing bowl yang menandai akhir perenungan. Turita berpesan agar semangat Tadarus Cinta tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi jalan pulang bagi hati. “Semangat Tadarus Cinta ini bukan hanya acara, tetapi menjadi jalan pulang bagi hati kita—menuju cinta kasih untuk semua,” katanya. Malam itu, para peserta meninggalkan ruangan dengan wajah teduh, membawa damai dan tekad menebar kasih dalam setiap langkah kehidupan.

Baca Juga : Empati untuk Gaza di Sekolah Alam Indonesia Cipedak

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....