Cinta Sebagai Sintesis Budaya dalam Ruang Ramadan
- 02 Mar 2026 19:28 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar filsafat, Rocky Gerung, hadir sebagai narasumber dalam acara “Tadarus Cinta: Cinta Kasih Terhadap Semua” yang menjadi bagian dari Majelis Nyala Purnama #10. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia di Makara Art Center pada Jumat malam, 27 Februari 2026. Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Syiar Ramadan Kampus UI yang akan berlangsung hingga 14 Maret 2026.
Tadarus Cinta dirancang sebagai ruang dialektika hati di bulan suci Ramadan. Acara ini tidak sekadar menghadirkan kajian, tetapi juga menghadirkan perjumpaan batin yang mengajak setiap orang merawat kasih tanpa memandang perbedaan. Dalam suasana yang hangat dan reflektif, nilai-nilai cinta dan kepedulian ditegaskan sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan beragam latar belakang.

Rocky Gerung mengangkat tema yang tidak biasa: Bakmie Jawa. Ia melihat kuliner tersebut sebagai contoh nyata sintesis budaya antara China dan Jawa. (Foto : Humas Komoenitas Makara)
Baca Juga : Lantunan Lir-Ilir Sastro Gendhing Dari Swara SeadaNya
Baca Juga : Tadarus Cinta Syiar Ramadan Penuh Kasih Dikampus UI
Dalam paparannya, Rocky Gerung mengangkat tema yang tidak biasa: Bakmie Jawa. Ia melihat kuliner tersebut sebagai contoh nyata sintesis budaya antara China dan Jawa. Menurutnya, bakmie yang berasal dari tradisi Tiongkok kemudian diberi identitas Jawa, sehingga melahirkan bentuk kebudayaan baru yang khas dan membumi. Perpaduan itu, bagi Rocky, adalah simbol perjumpaan yang melahirkan makna.
“Cinta merupakan narasi yang menginterupsi narasi-narasi biasa. Energi apa yang muncul ketika kita jatuh cinta? Itu bisa diriset secara kimia, misalnya oksitosin atau serotonin. Namun cinta yang benar adalah cinta yang diuji dengan tindakan fisik, karena ia akan berubah menjadi desire,” ujar Rocky dalam diskusi budaya yang dipandu Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al Zastrouw. Pernyataan tersebut memantik dialog hangat tentang cinta sebagai energi yang konkret sekaligus transformatif.

Diskusi tentang bakmie terdengar sederhana, namun di tangan Rocky Gerung, menjadi suatu metafora tentang bagaimana perbedaan dapat melebur menjadi harmoni. (foto : Humas Komoenitas Makara)
Melalui Majelis Nyala Purnama #10, Komoenitas Makara dan para mitra menghadirkan Ramadan sebagai momentum refleksi sekaligus perayaan keberagaman. Diskusi tentang bakmie mungkin terdengar sederhana, namun di tangan Rocky Gerung, ia menjadi metafora tentang bagaimana perbedaan dapat melebur menjadi harmoni. Dari ruang budaya kampus, pesan cinta dan sintesis itu diharapkan menjalar lebih luas ke tengah masyarakat.
Baca Juga : Empati untuk Gaza di Sekolah Alam Indonesia Cipedak
Baca Juga : Langkah Teater Mantuli Membuka Panggung Harapan