Di Balik Kapal Besar, Ada Abimanyu 3 yang Bekerja dalam Diam

  • 20 Sep 2026 08:28 WIB
  •  Jakarta

LAUT di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Kapal kontainer, kapal curah, kapal tanker, dan berbagai jenis kapal niaga datang silih berganti membawa barang yang akan masuk ke pasar Indonesia atau bergerak menuju berbagai daerah.

Di tengah lalu lintas itu, ada kapal berukuran jauh lebih kecil yang justru memiliki tugas menentukan: kapal tunda.

Bagi orang yang melihat pelabuhan dari kejauhan, kapal tunda mungkin tampak seperti kapal kecil yang sekadar mengikuti kapal besar. Kenyataannya berbeda.

Kapal-kapal itu memiliki peran penting dalam membantu kapal niaga melakukan manuver di area pelabuhan, terutama ketika kapal harus mendekati dermaga, bersandar, atau meninggalkan tempat sandarnya.

Seorang petugas Jasa Armada Indonesia (IPCM) dengan cermat memantau pergerakan kapal kontainer besar melalui teropong dari ruang kemudi kapal tunda di Pelabuhan Tanjung Priok. (Foto: RRI/Ilyas)
Abimanyu 3 dan Sepenggal Hari di Priok

Pada Rabu, 16 September 2026, di salah satu sudut perairan Tanjung Priok, Kapal Tunda Abimanyu 3 bersiap menjalankan tugas.

Di ruang kemudi kapal itu, Capt. Tengku Darmansyah, 49 tahun, menjalankan pekerjaannya sebagai Master atau nakhoda. Ia telah bergabung dengan IPCM sejak 2003 dan selama lebih dari dua dekade menjalani dinamika pelabuhan.

"Tugas utama kami adalah melayani. Kami mengasistensi kapal kargo, kontainer, bulk carrier, hingga tanker. Dari luar kita kasih sandar ke dermaga atau berthing, dan dari dermaga kita antar keluar atau unberthing," ujar Capt. Tengku kepada RRI Jakarta, Rabu, 16 September 2026.

Dalam satu hari, Capt. Tengku bersama 10 orang awak yang terbagi dalam departemen dek dan mesin dapat menangani lebih dari 10 pergerakan kapal sesuai pesanan dari perencana operasi.

Angka tersebut menggambarkan ritme kerja yang tidak selalu terlihat dari daratan. Setiap pergerakan harus dilakukan berdasarkan kondisi kapal yang dilayani, situasi perairan, posisi dermaga, instruksi petugas pandu, serta komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat.

Pemanduan dan penundaan kapal menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan serta kelancaran pergerakan kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. PT Jasa Armada Indonesia Tbk atau IPCM menjalankan layanan tersebut melalui petugas pemanduan dan kapal tunda untuk membantu kapal kargo, kontainer, kapal curah, hingga kapal tanker keluar dan masuk dermaga dengan aman.

Aktivitas tersebut berlangsung di tengah tingginya pergerakan kapal di Pelabuhan Tanjung Priok yang menjadi salah satu pusat kegiatan logistik Indonesia. Dalam pelaksanaannya, kapal tunda berperan memberikan asistensi kepada kapal, terutama saat proses sandar dan lepas sandar di area pelabuhan.

Kapal tunda tidak bekerja sendirian. Petugas pandu memiliki peran dalam membantu kapal bernavigasi di area pelabuhan, sementara awak kapal tunda menjalankan fungsi bantuan penundaan sesuai kebutuhan operasi.

Koordinasi menjadi penting karena ukuran kapal yang dibantu dapat jauh lebih besar daripada kapal tunda itu sendiri. Kesalahan perhitungan kecil dapat menghasilkan konsekuensi yang berbeda ketika kapal berbobot besar bergerak dalam ruang terbatas.

Seorang petugas pandu dengan pakaian safety menaiki tangga jacob untuk naik ke atas kapal tunda IPCM di malam hari. Petugas pandu memiliki peran penting dalam membantu navigasi kapal di area pelabuhan, bekerja sama erat dengan awak kapal tunda untuk memastikan pergerakan kapal berlangsung aman dan lancar. (Foto: RRI/Ilyas)
Ketika Angin Mengubah Perhitungan

Ada satu bagian dari pekerjaan ini yang sulit dikendalikan manusia: cuaca.

Kapal yang datang ke pelabuhan tidak selalu menghadapi kondisi air dan angin yang sama. Kecepatan angin dapat berubah, gelombang dapat meningkat, sementara kapal yang harus dibantu tetap memiliki momentum dan karakteristik manuvernya sendiri.

"Besar atau kecilnya kapal, semua ada tantangannya. Kalau faktor cuaca dan angin lagi kencang, kita harus lihat kondisi dan terus berkoordinasi dengan petugas pandu," kata Capt. Tengku.

Pernyataan itu memperlihatkan bagian pekerjaan yang sering luput dari perhatian. Kapal tunda memang memiliki mesin dengan tenaga besar, tetapi tenaga mesin saja tidak cukup untuk menentukan bagaimana sebuah kapal harus digerakkan.

Ada keputusan manusia di dalamnya.

Ada pula komunikasi yang harus berjalan antara awak kapal tunda dan petugas pandu. Dalam kondisi angin kencang atau perubahan cuaca, koordinasi tersebut menjadi semakin penting sebelum dan selama proses manuver.

Kapal Tunda di Pelabuhan Tanjung Priok, terlihat bersiaga di perairan yang tenang pada malam hari. (Foto: RRI/Ilyas)
Satu Kapal, Sepuluh Awak

Di atas Abimanyu 3, Capt. Tengku tidak bekerja seorang diri.

Sebanyak 10 orang awak kapal terbagi dalam departemen dek dan mesin. Mereka menjalankan fungsi masing-masing untuk memastikan kapal tunda dapat menerima dan melaksanakan pesanan operasi.

Dalam satu hari, tim tersebut dapat melayani lebih dari 10 pergerakan kapal sesuai pesanan dari perencana operasi.

Bagi pelabuhan, angka itu menggambarkan aktivitas. Bagi awak kapal, setiap pergerakan berarti satu pekerjaan yang harus diselesaikan dengan perhatian penuh.

Sebab, kapal yang mereka layani dapat memiliki ukuran jauh lebih besar daripada Abimanyu 3. Kesalahan kecil dalam membaca kondisi perairan dapat membawa konsekuensi yang berbeda ketika objek yang digerakkan memiliki bobot puluhan ribu ton.

Mengapa Kapal Besar Membutuhkan Kapal Kecil?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Jika kapal-kapal niaga memiliki mesin sendiri, mengapa masih membutuhkan kapal tunda?

Jawabannya berada pada karakteristik pelabuhan. Kapal besar harus melakukan manuver di ruang yang jauh lebih terbatas dibandingkan ruang laut terbuka.

Saat mendekati dermaga, kapal harus mengubah arah, mengurangi kecepatan, mempertahankan posisi, lalu menyesuaikan gerakannya dengan ruang yang tersedia. Dalam kondisi tertentu, bantuan dari kapal tunda dibutuhkan agar proses tersebut berlangsung terkendali.

Begitu kapal selesai melakukan bongkar muat dan harus berangkat, situasi serupa kembali terjadi. Kapal harus meninggalkan posisi sandarnya dan masuk ke alur pelayaran dengan aman.

Karena itu, towage atau penundaan kapal menjadi salah satu bagian dari sistem pelayanan pelabuhan.

IPCM melalui IPC Marine mencantumkan layanan pemanduan dan penundaan kapal sebagai bagian dari jasa perusahaan. Layanan tersebut mencakup pelabuhan umum, Terminal Untuk Kepentingan Sendiri, terminal khusus, kegiatan lepas pantai minyak dan gas, angkutan sungai, serta ship to ship.


Pemandangan dari dalam ruang kemudi kapal tunda melalui jendela berbentuk bulat, memperlihatkan gemerlap lampu dermaga Pelabuhan Tanjung Priok di malam hari. Di kejauhan, terlihat aktivitas alat angkat peti kemas yang terus bekerja, bagian dari rangkaian logistik nasional yang tidak pernah berhenti berdenyut. (Foto: RRI/Ilyas)
Dari Abimanyu 3 ke Rantai Logistik

Di sinilah kisah Capt. Tengku berubah menjadi cerita yang lebih besar.

Kapal tunda tidak membawa kontainer dari pelabuhan ke gudang. Kapal itu juga tidak mengirimkan barang dari gudang ke toko.

Namun, tanpa pergerakan kapal yang aman di area pelabuhan, rangkaian logistik tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Sebuah kapal yang membawa barang harus dapat masuk ke pelabuhan, mencapai dermaga, menyelesaikan aktivitasnya, kemudian meninggalkan pelabuhan. Setiap tahap membutuhkan koordinasi agar kapal berikutnya dapat menggunakan ruang dan fasilitas yang tersedia.

Pelabuhan Tanjung Priok merupakan salah satu simpul penting dalam jaringan logistik Indonesia. Ketika aktivitas kapal dan arus barang meningkat, kebutuhan terhadap pelayanan kapal yang aman dan efisien ikut menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar.

Pelindo mencatat arus peti kemas secara nasional mencapai 19,8 juta TEUs pada 2025. Jumlah itu meningkat 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara arus kapal mencapai 1,42 miliar Gross Tonnage.

Angka tersebut menunjukkan skala aktivitas yang harus ditangani oleh ekosistem pelabuhan. Di balik angka jutaan TEUs itu terdapat kapal yang harus datang, bersandar, melakukan kegiatan di terminal, kemudian berangkat kembali.

Setiap pergerakan membutuhkan sistem pendukung.

Dan salah satu bagian dari sistem tersebut berada di laut, dalam bentuk kapal-kapal tunda seperti Abimanyu 3.

Alat angkat peti kemas raksasa (container crane) di Terminal Peti Kemas JICT sedang beroperasi, memindahkan kontainer "China Shipping" dari kapal ke truk pengangkut. Keberhasilan proses bongkar muat di dermaga ini tidak terlepas dari peran krusial kapal tunda yang sebelumnya membantu kapal kontainer tersebut sandar dengan aman. (Foto: Pelindo)
Pekerjaan yang Justru Tidak Terlihat

Ada sisi lain dari pekerjaan Capt. Tengku yang menarik: keberhasilan seorang awak kapal tunda sering kali justru tidak menghasilkan berita.

Ketika sebuah kapal berhasil bersandar tanpa insiden, publik mungkin hanya melihat proses bongkar muat berjalan normal. Tidak banyak yang bertanya siapa yang membantu kapal tersebut melakukan manuver beberapa menit sebelumnya.

Begitu pula ketika kapal meninggalkan pelabuhan sesuai jadwal. Perhatian biasanya beralih kepada perjalanan kapal dan barang yang dibawanya.

Padahal, di balik kelancaran itu terdapat rangkaian keputusan yang dilakukan awak kapal tunda.

Mereka bekerja ketika pelabuhan ramai, ketika jadwal kapal berdekatan, bahkan ketika kondisi cuaca tidak ideal. Pekerjaan mereka baru menjadi perhatian ketika terjadi gangguan.

Dalam pengertian itu, pekerjaan kapal tunda memiliki karakter yang berbeda dari banyak pekerjaan lain. Keberhasilan sering kali ditandai oleh sesuatu yang tidak terjadi: tidak ada benturan, tidak ada kecelakaan, dan tidak ada gangguan terhadap pergerakan kapal.

Sisi Manusia di Balik Mesin

Tetapi Capt. Tengku tidak melihat pekerjaannya hanya sebagai rangkaian prosedur.

Lebih dari dua dekade berada di kapal membuat pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kehidupannya. Ada suka dan duka yang datang bersama ritme kerja di pelabuhan.

Rasa nyaman dan kecintaan terhadap profesi membuat tugas berat terasa lebih ringan baginya. Kesempatan untuk tetap dekat dengan keluarga juga menjadi salah satu kebahagiaan di tengah tuntutan pekerjaan.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keselamatan pelayaran bukan hanya persoalan teknologi kapal.

Di balik mesin, radar, komunikasi, dan berbagai peralatan navigasi terdapat manusia yang harus mengambil keputusan. Ketika kondisi berubah, manusia pula yang harus menentukan bagaimana pekerjaan dilanjutkan.

Karena itu, ketangguhan sebuah kapal tunda tidak hanya diukur dari kemampuan mesinnya. Ketangguhan juga lahir dari awak yang memahami kapal, mengenali situasi, dan mampu bekerja bersama pihak lain.

Warisan yang Terus Bergerak

IPCM memiliki sejarah panjang dalam layanan pemanduan dan penundaan kapal di Indonesia. Perusahaan yang kini menjadi bagian dari ekosistem maritim nasional tersebut bermula pada 1960 sebagai Unit Usaha Perusahaan Nasional Pelabuhan dan kemudian berkembang menjadi perusahaan penyedia jasa maritim.

Namun, sejarah sebuah perusahaan pada akhirnya tidak hanya tersimpan dalam dokumen atau laporan tahunan.

Sejarah itu juga hidup dalam pengalaman orang-orang yang menjalankan pekerjaannya setiap hari. Capt. Tengku adalah salah satu bagian dari perjalanan tersebut.

Sejak 2003, ia terus berpindah dari satu tugas ke tugas berikutnya. Kini, dari ruang kemudi Abimanyu 3, ia masih menjalankan pekerjaan yang sama dalam bentuk yang sangat konkret: membantu kapal lain bergerak dengan aman.

Di luar sana, kapal-kapal besar tetap datang membawa barang.

Kontainer terus berpindah, dermaga terus bekerja, dan jadwal kapal terus berjalan. Ketika sebuah kapal meninggalkan Tanjung Priok, sebagian besar perhatian tertuju pada tujuan akhirnya.

Namun, sebelum kapal itu sampai ke laut lepas, ada kemungkinan ia terlebih dahulu membutuhkan bantuan kapal tunda.

Di sanalah Abimanyu 3 mengambil perannya.

"Harapan saya, kita melayani kapal-kapal ini dengan memberikan pelayanan yang terbaik demi mencapai target perusahaan dan memastikan seluruh aktivitas pelayaran di Tanjung Priok berjalan aman," ujar Capt. Tengku menutup kisahnya.

Dan di balik kemudinya, Capt. Tengku bersama 10 awaknya bekerja memastikan satu bagian kecil dari sistem besar itu tetap bergerak.

Sebab, napas logistik nasional tidak hanya bergantung pada kapal-kapal yang membawa barang dalam jumlah besar. Ia juga bergantung pada kapal-kapal pendukung yang bekerja dalam diam, menjaga agar kapal-kapal tersebut dapat datang, bersandar, dan kembali berlayar dengan selamat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....