Menolak Pindah dari Tanah Kelahiran: Nyanyian Sunyi Warga Kampung Bandan
- 26 Jul 2026 21:40 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di balik dinding-dinding ruko tekstil Grand Butik yang megah dan riuh debu Stasiun Kampung Bandan, ada ruang-ruang hidup yang kian menyempit. Di sinilah, di wilayah RT 11 / RW 05 Kelurahan Ancol, ratusan keluarga berdesakan mempertahankan sejumput tanah yang menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan mereka. Kepadatan di wilayah ini luar biasa; untuk RT 11 saja, setidaknya ada sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) yang bermukim, begitu pula dengan RT 12 yang tak kalah padat.
Bagi warga setempat, kawasan ini bukan sekadar tempat bernaung, melainkan tanah kelahiran tempat ari-ari mereka ditanam. Keterikatan emosional yang mendalam inilah yang membuat warga kompak menolak ketika pemerintah sempat berencana menggusur pemukiman mereka untuk dibangun rumah susun (rusun) pasca-kebakaran hebat beberapa tahun silam.
"Benar (sempat mau dibangun rusun), cuma kan warga enggak setuju," ujar Santo salah seorang warga saat ditemui RRO Jakarta di bawah naungan rumah semi-permanennya. Minggu 26 Juli 2026.
Bagi mereka, tinggal di rusun berarti mencabut akar budaya dan sejarah yang telah mereka bangun puluhan tahun di tanah garapan ini.
Namun, kesetiaan pada tanah kelahiran ini harus dibayar mahal. Sejak dua tahun terakhir, beberapa warga mengaku tak lagi tersentuh oleh bantuan pemerintah. Program bantuan sosial (bansos) seperti Program Keluarga Harapan (PKH) yang dulunya menjadi penopang ekonomi keluarga, kini seolah terputus tanpa kejelasan.
"Kalau bansos sekarang kayaknya diblokir, di-stop. Sudah ada dua tahunan enggak pernah dapat bantuan lagi, kayak PKH gitu kayak diputus," keluhnya dengan nada getir.
Di tengah keterbatasan penghasilan dan himpitan ekonomi, hilangnya bantuan sosial ini menjadi pukulan telak yang membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari kian menjepit.
Ketika ditanya mengenai harapan mereka terhadap pemerintah, jawabannya senada dan sederhana: keadilan sosial dan uluran tangan yang merata. Di tengah kepungan banjir yang kerap datang dan bayang-bayang kebakaran yang selalu mengintai, bantuan materiil dan perhatian dari pemerintah menjadi hal yang amat dinanti.
Kini, Kampung Bandan berdiri sebagai kontras yang nyata di wajah Jakarta. Ia terjepit di antara rel kereta yang bising, pusat perbelanjaan, dan ruko komersial yang menjulang tinggi.
Warganya, yang sebagian besar bekerja sebagai buruh, pedagang, dan pekerja serabutan, hanya bisa terus bertahan di rumah-rumah kayu mereka. Mereka memelihara asa bahwa suatu hari nanti, suara dari gang-gang sempit mereka akan benar-benar didengar oleh para pemangku kebijakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....