Perjuangan Petani Rorotan Menjaga Hasil Panen Melimpah di tengah Kemarau Panjang
- 04 Agt 2026 09:22 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, Jakarta — Topi caping lebar dan selendang lusuh menjadi pelindung setia Ibu Barkah (60) dari sengatan terik matahari di kawasan Rorotan, Jakarta Utara. Di usianya yang tak lagi muda, perempuan ini masih setia berdiri di pematang sawah sejak pagi hingga jarum jam menunjukkan pukul enam sore.
Tangannya sibuk menghalau rombongan burung gereja saat kami menemuinya. Ibu Barkah terus mencoba menghalau burung burung yang mencoba merenggut bulir-bulir padi hijau yang mulai menguning.
"Nih, lagi jaga burung. Sekitar 20 harian lagi insyaAllah kita mau panen," ujar Ibu Barkah kepada RRI Jakarta, Senin 3 Juli 2026.
Bagi wanita kelahiran tanah Rorotan ini, musim kemarau panjang yang belakangan melanda Jakarta justru menjadi angin segar. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang kerap mengeluhkan suhu panas, Ibu Barkah dan para petani sekitar justru bersyukur.
Tanah sawah yang mengering membuat langkah kaki mereka tak lagi tenggelam dalam belumpur kental. "Mendingan begini (kering). Kita jalan kagak ambles, sepatu kagak belok," selorohnya sambil tertawa mengingat masa-masa sulit.
Ingatan Ibu Barkah kemudian tertuju pada awal tahun lalu. Musim hujan dan banjir bandang pada Januari sempat melumat habis seluruh usahanya.
Padi yang siap dipetik roboh diterjang air, disusul serbuan hama yang tak tersisa. Saat itu, ia tak membawa pulang satu karung pun. Tak ada hasil panen, tak ada pemasukan—yang tersisa hanyalah tumpukan utang biaya tanam yang harus ditanggungnya sendiri.
"Kemarin mah kagak panen sama sekali. Tekor kita, sampai mau bayar (utang) bingung dari mana uangnya. Makanya sedih, pengin meratapi rasanya," kenangnya penuh emosi.
Namun, kepasrahan tak pernah membuat Ibu Barkah berhenti melangkah. Berbekal bantuan bibit dari dinas pertanian serta dorongan dari kelompok tani lokal, ia kembali mengolah tanah penggarapannya. Musim ini, dari lahan yang ia kelola, ia mengincar hasil panen sekitar 1,5 hingga 2 ton gabah.
Jika harga gabah di pasaran mampu bertahan di angka Rp600.000 per kuintal untuk kualitas gabah kering yang bagus, ada sedikit napas lega yang bisa ia hembuskan. Uang hasil panen itu tak hanya akan digunakan untuk menyambung hidup sehari-hari, tetapi juga untuk melunasi sisa-sisa utang dari kegagalan panen lalu.
Di tengah ketidakpastian cuaca dan ancaman modernisasi kota, Ibu Barkah memilih untuk tetap bersahaja. Tak banyak tuntutan yang ia lontarkan, selain harapan sederhana agar harga gabah tidak anjlok saat hari panen tiba.
"Kita mah pasrah aja sama Yang Kuasa. Yang penting usahanya udah maksimal. Minta doanya biar panen kali ini berhasil," ujarnya penuh harap, sebelum kembali mengangkat tangannya menghalau burung yang hinggap di ujung ranting.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....