Memanggul 150 Kilogram, Kisah Buruh Kayu Kalibaru Bertahan Demi Keluarga

  • 02 Agt 2026 17:07 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Anto, seorang pengrajin kayu di Kalibaru Jakarta Utara, bekerja memotong dan mengangkut balok kayu besar dengan tangan untuk menghidupi keluarganya yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah.
  • Pekerjaan pengrajin kayu merupakan profesi berat yang melibatkan penggunaan mesin pemotong kayu bertenaga dan kerja fisik yang intensif di tengah debu dan aroma kayu basah.
  • Balok kayu yang bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai bahan bangunan, namun bagi para pengrajin kayu seperti Anto merupakan sumber penghidupan utama untuk keluarga mereka.

RRI.CO.ID, Jakarta — Deru mesin pemotong kayu memecah suasana di kawasan Kalibaru, Jakarta Utara. Di tengah kepulan serbuk kayu yang beterbangan dan aroma kayu basah yang memenuhi udara, seorang pria mengangkat balok kayu berukuran besar ke atas pundaknya, lalu melangkah perlahan menuju tempat pemotongan.

Bagi sebagian orang, balok kayu itu hanyalah bahan bangunan. Namun bagi Anto, balok-balok itulah yang menghidupi keluarganya di Pekalongan, Jawa Tengah.

Peluh mengalir dari dahinya. Debu halus menempel di wajah dan lengannya. Hampir setiap hari, tubuhnya harus menahan beban ratusan kilogram agar dapur keluarganya tetap mengepul.

Pria berusia 45 tahun itu bukan orang baru di Jakarta. Ia datang dari Pekalongan pada 1994 ketika usianya masih belia, membawa harapan yang sama seperti banyak perantau lain yang percaya ibu kota dapat menawarkan kehidupan yang lebih baik.

Tiga puluh tahun kemudian, harapan itu berubah menjadi perjuangan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.

Selama tinggal di Jakarta, Anto mengaku tidak pernah memilih pekerjaan. Hampir semua pekerjaan serabutan pernah ia jalani selama menghasilkan penghasilan yang halal.

"Kerja apa aja saya mah, yang penting halal," ujar Anto kepada RRI Jakarta saat ditemui di sela pekerjaannya, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan perjalanan hidup seorang pekerja informal yang terus bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan.

Sekitar dua tahun terakhir, Anto bekerja di sebuah toko kayu di Kalibaru. Tidak ada keterampilan khusus yang ia miliki selain tenaga fisik dan kemauan untuk bekerja.

Setiap pagi pukul tujuh, ia sudah berada di lokasi kerja. Aktivitasnya baru berakhir sekitar pukul lima sore.

Dalam rentang waktu itu, hampir seluruh pekerjaannya dilakukan secara manual.

Ia mencelupkan kayu ke cairan pengawet, membongkar muatan dari truk, memindahkan balok kayu ke gudang, memotong kayu sesuai pesanan pelanggan, hingga kembali mengangkut hasil potongan ke kendaraan pembeli.

Sesekali datang pesanan kayu berukuran besar. Saat itulah tenaga Anto benar-benar diuji.

Balok kayu yang dipikulnya bisa mencapai berat sekitar 150 kilogram. Kadang ia mengangkatnya sendiri, kadang bersama rekan kerja, tergantung ukuran dan panjang kayu yang harus dipindahkan.

Pekerjaan itu membuat bahunya mengeras. Telapak tangannya menebal. Otot punggungnya bekerja hampir tanpa henti setiap hari.

Namun ancaman terbesar bukan hanya beratnya beban.

Serbuk kayu yang beterbangan saat proses pemotongan menjadi bagian dari keseharian Anto. Debu itu sering masuk ke mata hingga membuat penglihatannya kabur.

"Serbuk kayu sering masuk ke mata. Kadang sampai enggak jelas lihat orang, berbayang karena kelilipan serbuk. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga kerjaan," ujarnya.

Keluhan tersebut mungkin terdengar sepele. Namun bagi pekerja yang harus mengangkat balok kayu seberat ratusan kilogram, gangguan penglihatan sesaat dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Meski demikian, pekerjaan tetap harus diselesaikan.

Tidak ada pilihan untuk berhenti hanya karena tubuh terasa pegal atau mata terasa perih. Sebab, berhenti bekerja berarti tidak ada penghasilan yang dibawa pulang hari itu.

Berbeda dengan pekerja formal yang menerima gaji tetap setiap bulan, Anto bekerja dengan sistem borongan.

Pendapatannya dihitung berdasarkan kubikasi kayu yang berhasil dikerjakan. Ketika pesanan sedang ramai, ia dapat memperoleh sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu dalam sehari.

Namun keadaan itu tidak selalu terjadi.

Saat toko sepi, penghasilannya ikut turun. Tidak ada kepastian berapa uang yang akan dibawa pulang setiap hari.

Ketidakpastian menjadi bagian dari hidup yang sudah lama ia terima.

Persoalan lain yang dihadapi Anto adalah minimnya perlindungan kerja.

Selama menjadi buruh panggul kayu, ia belum memiliki BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Jika sakit atau mengalami kecelakaan kerja, seluruh biaya pengobatan harus ditanggung sendiri.

Beruntung, hingga kini ia belum pernah mengalami cedera serius.

Rasa pegal pada bahu, pinggang, lutut, dan persendian menjadi keluhan yang paling sering ia rasakan. Setelah beristirahat semalam, ia kembali bekerja seperti biasa.

Bagi Anto, tubuh adalah modal utama mencari nafkah.

Selama tubuh masih sanggup mengangkat balok kayu, selama itu pula ia akan terus bekerja.

Seluruh pengorbanan itu bermuara pada sebuah rumah sederhana di Pekalongan.

Di sanalah istri dan dua anaknya menunggu hasil jerih payah yang ia kirimkan setiap bulan.

Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan kedua anaknya hingga menyelesaikan sekolah.

Anto berharap anak-anaknya tidak perlu menjalani pekerjaan seberat dirinya.

Ia ingin mereka memiliki kesempatan memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan.

Saat ditanya apakah penghasilannya cukup memenuhi kebutuhan keluarga, Anto hanya tersenyum.

"Kalau masalah cukup enggak cukup, ya dicukup-cukupin aja, yang penting bersyukur," ucapnya.

Jawaban itu mencerminkan cara banyak pekerja informal bertahan menghadapi ketidakpastian.

Ketika penghasilan tidak menentu, kemampuan menyesuaikan kebutuhan menjadi cara paling realistis untuk bertahan hidup.

Harapan kepada pemerintah pun tidak diungkapkan dengan nada menuntut.

Anto mengaku tidak berharap banyak.

"Harapan ke pemerintah? Ya namanya rakyat kecil mah gimana lagi, kadang enggak direspon juga," katanya sambil tersenyum tipis.

Menjelang sore, suara mesin mulai berkurang.

Serbuk kayu masih memenuhi lantai. Anto mengambil sapu, membersihkan sisa-sisa pekerjaan hari itu sebelum bersiap pulang.

Esok pagi, pekerjaan yang sama akan kembali menantinya.

Balok-balok kayu baru akan datang. Debu akan kembali beterbangan. Bahunya akan kembali memikul beban yang sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....