Jakarta Punya Kampung yang Nyaris Tak Pernah Siang
- 21 Jul 2026 09:08 WIB
- Jakarta
MATAHARI tetap terbit setiap pagi di Jakarta. Namun bagi Hevi, Rudi, juga Bu Ni serta sebagian warga Kampung Bandan dan kawasan padat di Ancol lain, sinarnya berhenti di atap-atap seng dan tembok rumah yang saling menempel, meninggalkan ribuan orang hidup di ruang yang gelap sepanjang hari.
Bagi sebagian besar orang, siang hari identik dengan matahari yang bersinar terang. Namun bagi Hevi (42), perempuan asal Brebes yang kini tinggal di sebuah gang sempit kawasan Ancol, Jakarta Utara, batas antara siang dan malam terasa nyaris hilang.
Kontrakan semi permanen berukuran sekitar 3x3 meter yang ia sewa seharga Rp500 ribu per bulan hampir tidak pernah tersentuh cahaya matahari. Lampu di dalam rumah harus menyala sepanjang hari agar aktivitas keluarga tetap bisa berlangsung.
Enam bulan lalu Hevi datang ke Jakarta bersama keluarganya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Pilihan mereka jatuh pada kontrakan sederhana yang dianggap paling sesuai dengan kemampuan ekonomi, meski harus berbagi kamar mandi umum dengan penghuni lain.
Ruangan kecil itu bukan hanya menjadi tempat beristirahat. Di tempat yang sama, ia memasak, menerima pembeli, menyimpan stok dagangan, sekaligus menjalankan usaha kecil menjual jus buah, air galon, dan gas elpiji.
Tidak adanya ruang bagi cahaya matahari membuat lampu menjadi kebutuhan utama. Bahkan untuk memastikan hari sudah benar-benar siang, Hevi mengaku terkadang harus keluar gang lebih dahulu.
"Awal-awal datang ke sini memang sempat kaget dengan kondisinya yang pengap dan gelap. Tapi setelah dijalani karena tuntutan keadaan, alhamdulillah lama-kelamaan betah juga," ujar Hevi kepada RRI Jakarta, Senin , 20 Juli 2026.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana adaptasi sering kali menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari bagi para pendatang. Ketika harga rumah dan kontrakan terus meningkat, kualitas hunian menjadi kompromi yang harus diterima.
Meski khawatir terhadap kesehatan kedua anaknya akibat rumah yang lembap dan minim cahaya, Hevi memilih menjalani keadaan dengan rasa syukur. Baginya, memiliki tempat tinggal jauh lebih penting dibanding harus memikirkan kenyamanan yang sulit dijangkau.
"Khawatir pasti ada, tapi ya bismillah saja. Yang penting kita tetap berusaha menjaga kesehatan dan kebersihan," ucapnya.

Ketika Lampu Menjadi Matahari
Kisah serupa ditemukan tidak jauh dari tempat tinggal Hevi. Di Kampung Bandan, Jakarta Utara, kondisi minim cahaya matahari bahkan telah berlangsung selama puluhan tahun.
Di kawasan inilah Rudi (58) menghabiskan hampir seluruh hidupnya. Ia menyaksikan perubahan kampung yang perlahan kehilangan ruang terbuka akibat pesatnya pembangunan Jakarta.
Rumah masa kecilnya di RW 07 kini telah berubah menjadi kawasan pertokoan dan gedung perkantoran. Penggusuran sejak dekade 1990-an membuat keluarganya berpindah ke permukiman yang jauh lebih padat.
Kini Rudi tinggal bersama istri dan anaknya di rumah berukuran sekitar 3x3 meter. Seluruh aktivitas keluarga berlangsung di ruangan yang sama.
| Baca juga: Kulit Ikan yang Mengubah Nasib Keluarga |
Dinding rumah tetangga berdiri hanya beberapa puluh sentimeter dari rumahnya. Celah sempit di antara bangunan membuat matahari nyaris tidak pernah masuk.
"Memang sudah semakin padat begini. Kalau enggak dinyalain lampu, memang gelap. Jadi lampu di rumah menyala 24 jam," kata Rudi.
Lampu menjadi pengganti matahari. Tanpa penerangan listrik, aktivitas memasak, bekerja, hingga belajar hampir mustahil dilakukan.
Konsekuensinya, pengeluaran listrik ikut meningkat. Namun bagi warga, biaya tambahan itu jauh lebih ringan dibanding harus hidup dalam gelap.
Rumah yang Semakin Kecil, Kota yang Semakin Besar
Fenomena "kampung tanpa siang" sesungguhnya tidak muncul dalam semalam. Kondisi tersebut merupakan hasil dari proses urbanisasi dan perubahan tata ruang Jakarta yang berlangsung selama puluhan tahun.
Pertumbuhan kawasan bisnis, pembangunan jalan, pusat perdagangan, hingga meningkatnya harga tanah membuat ruang permukiman rakyat semakin menyusut. Rumah-rumah kemudian berkembang secara vertikal maupun horizontal tanpa perencanaan yang memadai.
Lorong-lorong yang dahulu masih memungkinkan cahaya masuk perlahan tertutup bangunan tambahan. Ruang terbuka menghilang, ventilasi berkurang, dan sirkulasi udara ikut terganggu.
Akibatnya, kualitas hunian tidak lagi hanya diukur dari keberadaan atap dan dinding. Akses terhadap cahaya alami, udara segar, sanitasi, serta ruang gerak menjadi persoalan yang sama pentingnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kepadatan kota bukan sekadar persoalan jumlah penduduk. Yang ikut terdesak adalah kualitas hidup masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Bertahan karena Tidak Punya Pilihan
Bagi warga Kampung Bandan, pindah bukan perkara mudah. Harga tanah dan rumah di Jakarta telah melampaui kemampuan sebagian besar keluarga berpenghasilan rendah.
"Di sini memang sudah dari lahir. Mau pindah juga biayanya besar. Jadi ya bertahan saja," ujar Rudi.
Kalimat sederhana itu menjelaskan mengapa banyak keluarga memilih tetap tinggal di lingkungan padat. Bertahan bukan berarti nyaman, melainkan karena pilihan yang tersedia sangat terbatas.
Di kawasan yang sama, Bu Ni merasakan kenyataan serupa. Pendatang asal Pemalang itu sudah lebih dari dua puluh tahun tinggal di Kampung Bandan.
Kontrakan sederhana yang ia sewa hanya cukup untuk sebuah kasur, lemari, dan meja kecil. Bagian bawah rumah nyaris selalu gelap, sedangkan lantai atas sedikit lebih terang karena memiliki teras kecil.
"Kalau dibilang nyaman enggak nyaman, ya kita nikmatin saja," ucap Bu Ni.
Rutinitas sehari-hari pun tidak mudah. Untuk menuju kamar mandi umum, ia harus menuruni tangga kayu yang curam, terutama saat malam ketika penerangan terbatas.
"Paling repot itu kalau kebelet malam-malam. Mau enggak mau, biarpun ngantuk kayak apa, ya harus turun tangga buru-buru," katanya sambil tersenyum.
Dari Ruang Gelap ke Ancaman Kesehatan
Rumah yang minim cahaya bukan hanya menghadirkan persoalan kenyamanan. Dalam jangka panjang, keterbatasan pencahayaan alami dapat memengaruhi kualitas udara di dalam rumah, meningkatkan kelembapan, dan mempercepat tumbuhnya jamur yang berpotensi mengganggu kesehatan penghuni.
Bagi keluarga seperti Hevi, kekhawatiran itu selalu hadir setiap hari. Ia menyadari kedua anaknya tumbuh di lingkungan yang jauh dari kondisi hunian ideal, tetapi keterbatasan ekonomi membuat pilihan mereka sangat sedikit.
"Khawatir pasti ada, tapi ya bismillah saja. Yang penting kita tetap berusaha menjaga kesehatan dan kebersihan," ujar Hevi.
Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana sebagian warga menghadapi persoalan kesehatan bukan dengan fasilitas yang memadai, melainkan dengan kemampuan beradaptasi. Menjaga kebersihan menjadi satu-satunya benteng yang mereka miliki ketika kualitas lingkungan sulit diubah.
Di dalam rumah berukuran 3x3 meter, hampir seluruh aktivitas berlangsung dalam ruang yang sama. Tempat tidur berdampingan dengan dapur, ruang makan, sekaligus tempat mencari nafkah.
Situasi tersebut membuat ruang pribadi nyaris tidak ada. Setiap anggota keluarga harus berbagi ruang, udara, dan cahaya yang sama selama hampir 24 jam.

Banjir Datang, Kesulitan Bertambah
Gelap bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi warga Kampung Bandan. Ketika musim hujan tiba, kawasan ini hampir selalu bersiap menghadapi banjir.
Rudi mengatakan air kerap masuk ke rumah hingga setinggi lutut orang dewasa. Saat kondisi itu terjadi, prioritas utama bukan menyelamatkan barang berharga, melainkan memastikan keluarga tetap memiliki tempat untuk bertahan.
"Kalau banjir biasanya kasur dinaikkan ke atas. Kadang kami pindah sebentar ke ruko yang lebih tinggi sampai air surut," ucap Rudi.
Bagi warga, banjir bukan lagi peristiwa luar biasa. Mereka sudah memiliki rutinitas sendiri setiap kali hujan deras mengguyur Jakarta.
Kasur diangkat ke tempat yang lebih tinggi. Peralatan elektronik diamankan. Anak-anak dijaga agar tidak bermain di genangan air.
Rutinitas tersebut menunjukkan bagaimana warga telah belajar hidup berdampingan dengan risiko. Namun kemampuan beradaptasi itu tidak menghilangkan kerentanan yang mereka hadapi setiap tahun.
Kota yang Terus Bergerak
Jakarta merupakan magnet ekonomi terbesar di Indonesia. Setiap tahun ribuan orang datang membawa harapan memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Di sisi lain, kebutuhan hunian tumbuh jauh lebih cepat dibanding ketersediaan ruang. Harga tanah terus meningkat, sementara permukiman rakyat semakin terdesak oleh pembangunan kawasan komersial.
Akibatnya, rumah-rumah berkembang mengikuti ruang yang tersisa. Bangunan diperluas ke atas maupun ke samping tanpa menyisakan ruang bagi cahaya dan sirkulasi udara.
Fenomena inilah yang perlahan membentuk apa yang kini dikenal masyarakat sebagai "kampung tanpa siang". Sebuah istilah yang viral di media sosial, tetapi sesungguhnya telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi warga selama bertahun-tahun.
Banyak orang baru mengetahui kondisi tersebut setelah video-video warga memperlihatkan rumah yang tetap gelap pada tengah hari. Padahal bagi penghuni Kampung Bandan, keadaan itu bukan sesuatu yang baru.
Mereka telah menjalani kehidupan dengan lampu yang terus menyala jauh sebelum media sosial menjadikannya perbincangan.
Cahaya yang Tidak Pernah Sampai
Secara sederhana, cahaya matahari membutuhkan ruang terbuka agar dapat masuk ke dalam bangunan. Ketika jarak antarbangunan semakin sempit dan tinggi bangunan terus bertambah, sinar matahari akan terhalang sebelum mencapai lantai permukiman.
Di Kampung Bandan, lorong-lorong sempit membentuk semacam "kanion perkotaan". seperti ngarai. Dinding rumah yang berdiri saling berhimpitan menciptakan bayangan permanen hampir sepanjang hari.
Akibatnya, lampu menjadi sumber pencahayaan utama meskipun waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan konsumsi listrik rumah tangga, tetapi juga membuat rumah terasa lebih lembap.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, tambahan biaya listrik menjadi pengeluaran yang tidak dapat dihindari. Ironisnya, mereka harus membayar lebih untuk memperoleh sesuatu yang bagi sebagian besar masyarakat tersedia secara gratis, yakni cahaya matahari.
Harapan yang Sederhana
Meski hidup dalam berbagai keterbatasan, hampir tidak ada tuntutan besar yang disampaikan warga. Mereka lebih banyak berbicara mengenai harapan-harapan sederhana.
Hevi misalnya, mengaku tidak ingin meminta banyak kepada pemerintah. Sebagai penyewa kontrakan, ia merasa hanya ingin keluarganya bisa terus bekerja dan anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak.
Baginya, keberhasilan bukan berarti memiliki rumah besar. Keberhasilan adalah ketika dagangannya tetap laku dan kebutuhan keluarga dapat terpenuhi setiap hari.
Bu Ni pun memiliki harapan yang tidak jauh berbeda. Setelah lebih dari dua puluh tahun tinggal di Kampung Bandan, ia berharap lingkungan tempat tinggalnya semakin bersih, saluran air berfungsi dengan baik, dan banjir tidak lagi menjadi langganan setiap musim hujan.
Di sela-sela kesibukan, ia tetap menikmati kebersamaan dengan tetangga. Saat udara di dalam rumah terlalu panas, ibu-ibu di kampung itu berkumpul di bawah kolong bangunan atau dekat rel kereta untuk berbincang sambil menunggu matahari mulai redup.
"Pertama kali ke sini ya kaget, kok Jakarta kayak begini? Tapi lama-lama malah lebih betah di sini daripada di kampung," kata Bu Ni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....