Kulit Ikan yang Mengubah Nasib Keluarga
- 20 Jun 2026 09:02 WIB
- Jakarta
BAU Amis yang menyengat menjadi hal pertama yang tercium saat memasuki kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Di tengah deretan rumah dan aktivitas nelayan yang tak pernah benar-benar berhenti, tumpukan kulit dan tulang ikan yang bagi sebagian orang dianggap sampah justru menjadi sumber penghidupan.
Di tempat inilah Ropika, 58 tahun, membangun usaha yang mengubah limbah laut menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Selama lebih dari 15 tahun, ia menekuni bisnis pengolahan kulit dan tulang ikan cucut hingga mampu meraih omzet sekitar Rp50 juta per bulan.
Kisahnya bukan sekadar cerita sukses seorang ibu rumah tangga. Di balik tumpukan limbah yang selama ini luput dari perhatian, tersimpan potensi ekonomi, lingkungan, dan sosial yang jarang diketahui publik.

Selama bertahun-tahun, kawasan pesisir Jakarta Utara menghadapi persoalan yang sama. Aktivitas perikanan menghasilkan banyak sisa pengolahan ikan setiap hari.
Sebagian limbah dibuang begitu saja. Sebagian lainnya berakhir menjadi sampah organik yang menumpuk di sekitar pelabuhan dan tempat pelelangan ikan.
Di tengah kondisi itu, Bu Ropika melihat sesuatu yang berbeda.
Ia tidak melihat kulit ikan sebagai sampah. Ia melihat peluang.
Lebih dari 15 tahun lalu, ketika masih menjalankan usaha kerang hijau, ia mencoba mengolah kulit ikan cucut menjadi kerupuk. Produk itu awalnya dibuat dalam jumlah kecil dan dijual ke warung-warung sekitar rumah.
"Awalnya coba-coba buat kerupuk, ternyata enak dan laku di warung-warung. Sekarang lebih banyak kirim bahan baku kulit kering ke Cirebon, sekali kirim bisa 1,5 ton," ujar Ropika saat ditemui Radio Republik Indonesia atau RRI Jakarta di lokasi produksinya, pada Jumat, 19 Juni 2026.
Keputusan itu mengubah arah hidupnya.
Dari usaha rumahan berskala kecil, ia perlahan membangun jaringan pemasok dan pembeli. Kini kulit ikan yang dulu dibuang justru menjadi komoditas yang dicari industri pengolahan makanan.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap limbah perikanan. Apa yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi sumber ekonomi baru jika diolah secara tepat.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO, proses pengolahan ikan menghasilkan produk samping atau by-product dalam jumlah besar. Kepala, tulang, kulit, sirip, sisik, hingga organ dalam dapat mencapai 30 hingga 70 persen dari total berat ikan, tergantung spesies dan metode pengolahannya. Sebagian besar bagian tersebut selama bertahun-tahun berakhir sebagai limbah meski sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi tinggi.
Sosok di Balik Perubahan
Ropika bukan pengusaha besar.
Ia juga bukan lulusan perguruan tinggi yang mempelajari bisnis atau teknologi pangan.
Ia adalah ibu rumah tangga yang belajar dari pengalaman sehari-hari.
Lahir dan besar di lingkungan pesisir membuatnya akrab dengan aktivitas perikanan sejak kecil. Ia memahami bagaimana nelayan bekerja, bagaimana ikan diperdagangkan, dan bagaimana sebagian besar limbah hasil tangkapan berakhir tanpa nilai ekonomi.
Ia membangun usaha secara bertahap dari keuntungan yang terus diputar kembali.
"Alhamdulillah, dari usaha kulit ini sudah bisa punya rumah, kendaraan, dan anak-anak sekolah. Anak saya lima, yang terakhir ini harapannya bisa sampai kuliah," ujar.
Di balik kalimat sederhana itu tersimpan fakta yang menarik.
Bisnis yang berawal dari limbah ternyata mampu mengubah kondisi ekonomi satu keluarga selama bertahun-tahun.
Pasar terbesar saat ini berada di Cirebon.
Dalam satu bulan, pengiriman dapat mencapai sekitar 1,5 ton.
Selain menjual bahan baku kering, Bu Ropika juga mengolah sebagian kulit menjadi kerupuk siap konsumsi.
Dari satu kilogram kulit ikan, ia dapat menghasilkan ratusan bungkus kerupuk ukuran kecil.
Produk tersebut didistribusikan ke sejumlah warung di sekitar wilayah Cilincing.
Namun sumber keuntungan terbesar justru berasal dari bagian yang lebih jarang diperhatikan, yakni tulang ikan cucut.
Tulang-tulang tersebut dikeringkan dan dipasarkan ke berbagai daerah.
Nilai jualnya bahkan lebih tinggi dibanding kulit.
Menurut Bu Ropika, tulang ikan kering dapat dijual hingga sekitar Rp65.000 per kilogram. Pengiriman dilakukan setiap dua minggu sekali ke Tegal dan Muara Baru dengan volume mencapai 1,5 ton.
Dari aktivitas inilah omzet sekitar Rp50 juta per bulan dapat dicapai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....