Membelah Lumpur, Menepis Bahaya: Sisi Ekstrem Kehidupan Pemburu Cacing Sutra BKT
- 13 Jul 2026 15:52 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Bagi sebagian besar warga Jakarta, Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) mungkin lekat dengan citra tumpukan sampah atau aroma air yang kurang sedap. Namun, bagi para pemburu cacing sutra, setiap sudut sungai ini adalah labirin misteri yang harus mereka raba setiap hari. Di balik permukaan airnya yang keruh dan gelap, tersimpan risiko keselamatan yang menuntut keberanian luar biasa.
Menyelami profesi ini dari nol bukanlah perkara mudah. Dengan kondisi air sungai yang gelap, para pekerja dipaksa mengandalkan kepekaan indra peraba mereka di dalam lumpur. Ketakutan akan tenggelam mungkin bisa ditepis oleh mereka yang memiliki dasar kemampuan berenang, namun ancaman dari benda-benda tak terduga di dasar sungai adalah cerita lain.
"Sampah di Sungai BKT ini dari berbagai macam jenis, Bang, dari mulai limbah kayu sampai limbah rumah tangga ada semua, " ujar Luthfi Nugroho (38) kepada RRI Jakarta, Senin 13 Juli 2026.
Dari sekian banyak limbah yang mengendap, ada satu pengalaman menggelikan sekaligus memprihatinkan yang sulit dilupakan. Dalam sebuah penggalan kisah, saringan salah satu pekerja pernah tersangkut benda berukuran besar. Alih-alih mendapatkan gumpalan cacing atau potongan kayu, saat ditarik ternyata benda tersebut adalah sebuah spring bed atau kasur bekas yang sengaja dibuang oleh warga ke sungai.
Taruhan Nyawa di Antara Beling dan Cobra Jawa
Sisi ekstrem dari pekerjaan ini bukan sekadar urusan mengangkat kasur bekas. Luka dan cedera fisik adalah makanan sehari-hari bagi mereka. Bahaya laten seperti pecahan gelas, beling, hingga tusuk sate dan potongan bambu siap menghunjam kulit mereka kapan saja.
Uniknya, para pekerja memiliki insting tersendiri untuk memetakan bahaya tersebut. Sampah tajam seperti tusuk sate atau bambu biasanya melayang di antara lumpur dan permukaan air, sehingga sering kali langsung menggores tubuh mereka. Sebaliknya, pecahan beling atau kaca biasanya terkubur jauh di dasar lumpur, membuat mereka harus lebih waspada saat memijak.
Tak berhenti di situ, satwa liar penghuni sungai pun kerap menjadi teror nyata. Ular jenis Cobra Jawa (Naja sputatrix) yang berwarna hitam legam merupakan salah satu pemandangan yang kerap mereka jumpai, terutama saat mereka harus turun beroperasi di malam hari. Ular-ular berbisa tersebut biasanya bersembunyi atau berkeliaran di sepanjang tepian sungai.
"Biasanya antisipasi kami sebelum turun ya kita gertak, jadi kan dia (ularnya) kabur," tuturnya menceritakan trik bertahan hidup di lapangan.
Bertahan demi Peluang dan Kemandirian
Melihat rentetan risiko yang begitu besar mulai dari infeksi kulit, luka tusuk, hingga ancaman bisa ular tak berlebihan jika menyebut profesi ini sebagai pekerjaan yang bertaruh nyawa. Namun, mengapa mereka tetap bertahan dan mencintai pekerjaan ini?
Bagi sebagian pekerja, keterbatasan pilihan menjadikan profesi ini sebagai satu-satunya tumpuan untuk menyambung hidup dan menghasilkan rupiah. Namun bagi sebagian lainnya yang juga menggeluti budidaya ikan air tawar, berburu cacing sutra secara mandiri adalah langkah strategis untuk bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi, terutama saat musim kemarau panjang melanda.
Di kala harga pakan melambung tinggi dan pasokan sulit didapat, kemampuan mencari cacing sutra sendiri menjadi penyelamat bisnis budidaya mereka. Hasil tangkapan tidak hanya digunakan untuk memberi makan ikan-ikan peliharaan sendiri, tetapi kelebihannya dapat dijual ke pasaran.
Uang hasil penjualan cacing tersebut kemudian diputar kembali untuk menutup biaya operasional budidaya, seperti membayar tagihan listrik pompa yang cukup menguras kantong. Pada akhirnya, di balik pekatnya lumpur dan ancaman bahaya Sungai BKT, cacing-cacing sutra ini telah menjadi sumber passive income yang membuat dapur mereka tetap mengepul dan asa mereka tetap hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....