Dampak Pencemaran Sungai BKT, Cacing Sutra Kini Makin Sulit Ditemukan

  • 13 Jul 2026 17:38 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Bagi sebagian orang, Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) mungkin hanyalah saluran air besar penahan banjir ibu kota. Namun bagi hampir 80 orang dari berbagai wilayah mulai dari Jakarta Timur hingga Jati Asih, Bekasi sungai ini adalah gantungan hidup, tempat mereka mengais rezeki sebagai pencari cacing sutra.

Sayangnya, pemandangan para pemburu cacing yang berendam di aliran sungai kini kian sering terganggu oleh ancaman nyata: limbah misterius yang datang tak diundang.

"BKT ini kan tempat mata pencaharian yang saya lakukan. Terkadang ada beberapa waktu di mana BKT ini tercemari limbah," keluh seorang pencari cacing sutra kepada RRI Jakarta. Senin 13 Juli 2026.

Dampak pencemaran ini tidak main-main. Setiap kali limbah misterius yang kerap memicu buih busa dan bau menyengat itu datang, ekosistem sungai langsung lumpuh. Jangankan cacing sutra yang sensitif, ikan sapu-sapu yang terkenal memiliki daya tahan tubuh sangat kuat pun jamak ditemukan pingsan hingga mati mengapung. Jika sudah begitu, para pencari cacing dipastikan pulang dengan tangan hampa karena tidak ada satu pun cacing sutra yang bisa bertahan hidup.

Pencemaran ini juga membawa ancaman kesehatan bagi para pekerja. Kulit-kulit yang sensitif sering kali mengalami luka, koreng, hingga kudisan akibat air sungai yang kotor. Selain itu, bau menyengat dari limbah yang terbawa air kerap membuat kepala pening. "Bukan cuma di sungainya, sampai ke pemukiman saja tercium baunya," tambahnya.

Penurunan Omzet yang Signifikan

Kondisi lingkungan yang kian memburuk dari tahun ke tahun berbanding lurus dengan merosotnya pendapatan para pencari cacing. Mereka merasakan penurunan hasil tangkapan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.

Sebelum masa pandemi COVID-19 atau sekitar tahun 2020, dari satu karung lumpur seberat 30 kilogram, mereka mampu mengekstrak hingga 40 liter cacing sutra bersih. Dengan harga jual Rp18.000 per liter, mereka bisa membawa pulang pendapatan yang lumayan untuk menyambung hidup.

Namun sekarang, realitasnya berbalik 180 derajat. "Untuk saat ini, satu karung penuh 30 kilo tersebut, untuk mendapatkan 15 liter saja sulit, Bang," tuturnya dengan nada lemas. Penurunan omzet yang mencapai lebih dari setengahnya ini membuat mereka kian menjerit.

Di tengah ketidakpastian tersebut, para pencari cacing sutra di BKT hanya bisa menyandarkan harapan pada pemerintah. Mereka sangat berharap agar Sungai BKT dapat ditata ulang dan pengawasan terhadap pembuangan limbah ilegal lebih diperketat.

Bagi mereka, kelestarian Sungai BKT bukan sekadar urusan kebersihan lingkungan kota, melainkan jaminan dapur mereka agar tetap bisa mengepul di masa depan.

Hingga berita ini ditulis, sayangnya belum ada pihak pihak terkait yang berhasil dikonfirmasi terkait persoalan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....