Potret Pejuang Jalanan, Bertaruh Nyawa di Jalur Tengkorak
- 30 Mar 2026 14:54 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Di balik kebisingan klakson dan kepulan asap kendaraan berat di kawasan dekat tol arah Ancol, sosok wanita tegar berdiri dengan peluit di sela bibirnya. Ia adalah Fitriyani, seorang ibu rumah tangga yang telah tiga tahun lebih memilih profesi sebagai juru parkir untuk menghidupi keluarganya.
Bagi Fitriyani, jalanan bukan sekadar aspal panas, melainkan harapan. Keputusannya menjadi juru parkir bermula dari desakan ekonomi dan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal bagi kedua anaknya. Satu anaknya kini duduk di bangku kelas 2 SMP, sementara yang bungsu baru berusia lima tahun.
"Saya sebelumnya cuma ibu rumah tangga. Tapi keadaan menuntut saya harus cari uang sendiri buat anak-anak," ujar Fitriyani saat ditemui RRI Jakarta, Senin 30 Maret 2026.
Bekerja di jalur yang didominasi truk kontainer besar bukanlah tanpa risiko. Fitriyani mengaku seringkali harus "bertaruh nyawa". Tak jarang ia terlibat adu mulut dengan pengendara yang tidak sabar atau tidak mau mengikuti aba-abanya.
"Suka dukanya ya banyak. Kadang orang nggak sabar, kita harus berantem suara dulu. Belum lagi risiko ditabrak kontainer, kita di sini benar-benar taruhan nyawa," ungkapnya.
Selain risiko kecelakaan, ia juga harus sigap menghindari penertiban dari petugas kepolisian maupun Dinas Perhubungan.
Meski penuh risiko, pekerjaan ini mampu memberikan penghasilan bersih sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000 pada hari-hari ramai. Uang tersebut ia gunakan untuk keperluan dapur, biaya sekolah anak, hingga membantu kakaknya yang selama ini memberinya tempat tinggal.
Fitriyani mengaku, pilihan profesinya terbatas karena latar belakang pendidikannya yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Tanpa ijazah tinggi dan pengalaman kerja formal, ia merasa sulit menembus pasar kerja di Jakarta.
Melalui pekerjaannya, Fitriyani menaruh harapan besar pada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Ia berharap ada peluang kerja yang lebih layak dan bantuan sosial yang tepat sasaran.
"Penginnya sih ada kerjaan yang lebih baik, tapi ijazah saya cuma SD. Semoga pemerintah bisa lebih banyak membuka peluang buat orang-orang seperti kami," tutupnya sebelum kembali meniup peluit dan memandu sebuah truk besar yang melintas.
Kisah Fitriyani adalah satu dari sekian banyak potret kegigihan perempuan di ibu kota yang berjuang menembus batas keterbatasan demi kebahagiaan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....