Kisah Fitriani, Wanita Penyelamat di Tikungan Miring Ancol
- 03 Apr 2026 19:01 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di salah satu sudut Jalan Ancol yang mengarah ke Jalan RM Martadinata, aspal tidaklah sejajar rata. Jalannya miring, bergelombang, dan penuh risiko. Di sinilah Fitriani (33), seorang juru parkir perempuan, berdiri tegak setiap hari. Bukan hanya untuk mengais rupiah, namun seringkali ia berperan sebagai penunjuk jalan demi nyawa para pengendara.
Bagi Fitriani, pekerjaan ini jauh dari kata aman. Ia harus berhadapan dengan truk-truk kontainer raksasa yang melintas dengan beban berat. Kondisi jalan yang miring membuat kontainer-kontainer tersebut sering terlihat oleng ke kiri, mengancam siapa saja yang berada di sampingnya.
"Jalannya nggak rata, miring. Bahaya banget kalau kontainer lewat, sering miring ke kiri. Saya sering teriak-teriak ke sopirnya, 'Bang, kanan! Bang, kanan!', karena takut kena motor atau kena saya sendiri," ujar Fitriani saat diwawancarai RRI Jakarta dengan ekspresi serius. Jumat 3 April 2026.
Meski keberadaannya sangat membantu mengatur lalu lintas di titik rawan tersebut, Fitriani harus menelan pahitnya risiko pekerjaan. Tak jarang, keselamatannya sendiri terancam oleh keganasan jalanan.
"Pernah mau ketabrak. Sopir kontainer itu kadang nggak mau ngalah, padahal sudah distopin. Ya kita yang harus ngalah, minggir sendiri kalau nggak mau celaka," ceritanya.
Risiko semakin berlipat ganda saat hujan turun. Aspal yang miring menjadi sangat licin, membuat kendaraan rawan tergelincir atau terbalik. Meski selama ia bertugas belum pernah ada kecelakaan fatal yang merenggut nyawa, namun berita tentang kontainer yang terbalik sudah menjadi kabar rutin setiap beberapa bulan sekali.
Bagi Fitriani, profesi juru parkir di titik ini bukan sekadar urusan memarkirkan kendaraan. Ia adalah pengamat, penjaga, sekaligus pemberi peringatan bagi para pengguna jalan yang mungkin tidak menyadari bahaya di depan mata.
"Harapannya ya jalan ini bisa diratain. Biar kontainer jalannya aman, nggak miring-miring lagi. Orang yang lewat juga nggak was-was," ungkapnya menutup pembicaraan.
Di balik debu jalanan dan deru mesin truk, Fitriani terus meniup peluitnya. Ia adalah simbol ketangguhan di tengah kerasnya infrastruktur Jakarta. Sebuah potret tentang bagaimana seorang perempuan bertaruh nyawa setiap hari, demi menjaga agar roda ekonomi—dan nyawa orang lain—tetap berputar dengan selamat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....