Tempe Berbahan Kacang Lokal Masih Perlu Penyempurnaan Rasa
- 30 Jul 2026 15:29 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Tempe Berbahan Kacang Lokal Masih Perlu Penyempurnaan Rasa
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengembangan tempe berbahan baku kacang-kacangan lokal dinilai memiliki prospek besar sebagai alternatif pengganti kedelai. Namun, cita rasa dan tekstur produk masih menjadi tantangan yang harus disempurnakan agar dapat diterima lebih luas oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan Anggota Tim Kedaulatan Pangan Nusantara (KPN) Perkumpulan Pusaka Indonesia, Dwi Nita Permatasari, dalam program Obrolan Komunitas RRI.
Dwi Nita mengatakan, timnya telah melakukan riset terhadap berbagai bahan pangan lokal sebagai bahan baku tempe. Beberapa di antaranya adalah kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, kacang tolo, kacang koro pedang, jagung, sorgum, hingga petai cina. Menurutnya, setiap bahan memiliki karakteristik rasa, tekstur, dan proses pengolahan yang berbeda.
"Dari sejumlah percobaan tersebut, ia menilai kacang tanah menjadi bahan yang paling mendekati tempe kedelai dari segi rasa dan tekstur. Sementara kacang hijau lebih mudah diolah, tetapi menghasilkan tekstur yang lebih lembek dan tidak bertahan lama setelah difermentasi. Di sisi lain, kacang tolo memiliki cita rasa lebih gurih, sedangkan kacang koro pedang menawarkan kandungan gizi yang tinggi meski proses pembuatannya lebih rumit." Ujar Nita dalam dialog bersama RRI, Selasa, 28 Juli 2026.
Meski demikian, Dwi Nita mengakui tantangan terbesar bukan hanya pada proses produksi, tetapi juga menciptakan rasa yang sesuai dengan selera masyarakat. Menurutnya, masyarakat selama ini sudah terbiasa dengan cita rasa tempe kedelai sehingga inovasi tempe berbahan kacang lokal harus mampu menghadirkan rasa yang tidak jauh berbeda agar lebih mudah diterima.
"Kalau kandungan gizinya tinggi, tetapi rasanya kurang enak, biasanya orang enggan memilih. Karena itu kami masih terus mencari terobosan agar rasa dan teksturnya semakin mendekati tempe kedelai," ujar Dwi Nita.
Selain menyempurnakan rasa, tim KPN juga berupaya menemukan metode pembuatan yang lebih sederhana. Menurut Dwi Nita, proses fermentasi beberapa jenis kacang lokal masih memerlukan waktu cukup lama, seperti kacang koro pedang yang harus direndam hingga lima hari untuk menghilangkan racun alami sebelum difermentasi. Penyederhanaan proses tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat memproduksi tempe alternatif secara mandiri maupun sebagai peluang usaha.
Saat ini riset masih dilakukan dalam skala rumah tangga oleh tujuh anggota tim dan belum diproduksi secara komersial. Ke depan, Perkumpulan Pusaka Indonesia berencana menyusun buku yang memuat hasil penelitian sekaligus panduan pembuatan tempe berbahan pangan lokal sebagai bagian dari edukasi diversifikasi pangan dan penguatan kedaulatan pangan Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....