Bank Jakarta dan BEI Dorong Transformasi dan Kualitas di tengah Dinamika Ekonomi
- 30 Jun 2026 20:41 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Bank Jakarta dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepakat mendorong transformasi dan peningkatan kualitas menjadi kunci menjaga ketahanan industri keuangan di tengah perubahan lanskap ekonomi global. Di sektor perbankan, transformasi bisnis dilakukan untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, sementara di pasar modal penguatan kualitas investor dinilai menjadi fondasi bagi pendalaman pasar.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, secara fundamental industri perbankan nasional masih berada dalam kondisi yang solid. Pertumbuhan kredit tetap positif, permodalan kuat, likuiditas terjaga, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) masih relatif rendah.
“Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah,” kata Agus dalam diskusi Shaping the Next Era of Indonesia’s Capital Market pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Agus, industri perbankan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat dampak pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga perubahan kebijakan perdagangan global. Kondisi tersebut membuat perbankan tidak lagi bisa mengandalkan pola bisnis konvensional.
Di sisi lain, tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) juga mulai meningkat. Agus mengungkapkan bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat mencapai 11,5 persen, yang menjadi sinyal naiknya biaya penghimpunan dana bagi industri.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Jakarta mempercepat transformasi di berbagai lini, mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, peningkatan manajemen risiko hingga pembentukan budaya kerja yang lebih adaptif.
Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perseroan juga memperkuat pengembangan bisnis melalui optimalisasi ekosistem pemerintah daerah. Agus menilai besarnya perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta menjadi peluang untuk menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Selain memperbarui infrastruktur teknologi dan aplikasi digital, Bank Jakarta juga meningkatkan kompetensi sumber daya manusia untuk mendukung transformasi tersebut. Menurut Agus, penguatan manajemen risiko juga menjadi prioritas karena ancaman yang dihadapi industri kini semakin beragam, termasuk risiko keamanan siber.
“Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi,” ujarnya.
Dalam forum yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffry Hendrik menekankan bahwa transformasi pasar modal juga harus diiringi peningkatan kualitas investor.
Menurut Jeffry, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) terus memperkuat transparansi pasar, menyediakan data investor yang lebih granular, memperdalam pasar modal, serta meningkatkan keterbukaan informasi kepada publik.
“Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi,” katanya.
Jeffry mengungkapkan jumlah investor domestik saat ini telah melampaui 28 juta. Namun, ia menilai pertumbuhan jumlah investor harus diikuti peningkatan literasi dan kemampuan analisis agar pasar modal berkembang secara sehat.
Ia mengingatkan investor tidak hanya mengikuti tren atau rekomendasi di media sosial, melainkan memahami profil risiko dan melakukan analisis sebelum mengambil keputusan investasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....