Inflasi Jakarta Mei 2026 Tetap Terkendali di Tengah Gejolak Global

  • 03 Jun 2026 17:07 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Tekanan inflasi di DKI Jakarta melandai dan tetap terkendali pada Mei 2026, meskipun dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha. Inflasi bulanan Ibu Kota tercatat sebesar 0,12 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,21 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta tercatat sebesar 2,49 persen (year on year/yoy), berada di bawah angka nasional yang mencapai 3,08 persen.

“Inflasi DKI Jakarta pada Mei 2026 tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Capaian ini mencerminkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi yang terus diperkuat oleh seluruh pemangku kepentingan di daerah,” ujar Iwan Setiawan, di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurutnya, tekanan inflasi pada Mei terutama berasal dari kenaikan harga energi nonsubsidi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan bahan bakar rumah tangga seperti LPG. Kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan harga energi dunia yang terjadi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan.

“Kelompok transportasi juga menjadi penyumbang utama inflasi pada bulan lalu. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,55 persen (mtm), didorong kenaikan tarif angkutan udara seiring meningkatnya biaya avtur dan tingginya permintaan perjalanan selama periode libur Waisak dan persiapan Idul Adha,” katanya.

Tekanan harga juga datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi sebesar 0,25 persen (mtm). Kenaikan harga cabai merah dan bawang merah akibat terbatasnya pasokan dari sentra produksi menjadi faktor utama. Harga minyak goreng juga mengalami kenaikan sejalan dengan meningkatnya harga minyak sawit mentah (CPO) global serta biaya kemasan plastik.

Namun demikian, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga. Surplus pasokan menyebabkan harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami deflasi. Penurunan harga juga terjadi pada komoditas udang basah dan tomat.

“Faktor lain yang turut menahan inflasi adalah turunnya harga emas perhiasan. Pelemahan harga emas global sejak Maret 2026 mendorong kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 1,10 persen (mtm), lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,66 persen,” ujarnya.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan, dalam upaya menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus mengintensifkan berbagai program pengendalian inflasi selama Mei 2026. Langkah tersebut antara lain melalui pelaksanaan pasar murah, penyaluran pangan bersubsidi, bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng, penguatan urban farming, percepatan impor sapi, hingga optimalisasi layanan truk pangan keliling milik BUMD.

Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memperkuat pengawasan kesehatan hewan kurban dan kesiapan juru sembelih halal. Edukasi kurban “ASUH” atau Aman, Sehat, Utuh, dan Halal terus digencarkan guna memastikan kualitas hewan dan daging kurban yang beredar di masyarakat.

Iwan menegaskan bahwa TPID DKI Jakarta akan terus memperkuat strategi 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik global terhadap harga energi serta potensi gangguan produksi pangan akibat musim kemarau dan fenomena El Nino.

“Dengan sinergi yang semakin kuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen sepanjang tahun 2026,” kata Iwan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....