JHEC 2026 Perluas Akses Produk Halal Indonesia ke Pasar Global

  • 29 Agt 2026 15:44 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Jakarta Halal Expo and Conference (JHEC) 2026 mempertemukan lebih dari 30 pelaku usaha halal Indonesia dengan lebih dari 14 pembeli dan investor dari lebih dari 15 negara melalui skema business matching Business to Business (B2B).

Penyelenggaraan JHEC yang memasuki tahun ketiga ini berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, dengan mengusung tema “Indonesia’s Premier Platform for Global Halal Trade, Partnership, and Innovation.”

JHEC digelar Lima Events bersama Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) sebagai host dan berkolaborasi dengan Muslim LifeFest.

Bendahara Umum KPMI, Teuku Fadhil Aruna mengatakan, konsep antara JHEC dan Muslim LifeFest memiliki perbedaan.

Menurut dia, JHEC tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan produk, tetapi dirancang sebagai forum untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dagang, distributor, buyer, hingga investor dari berbagai negara.

“Kalau Muslim LifeFest skemanya B2C atau business to customer. Tapi kalau di JHEC, Jakarta Halal Expo and Conference, adalah program B2B, di mana di sini mempertemukan antara pengusaha-pengusaha dari luar negeri dengan pengusaha yang ada di Indonesia,” ujar Fadhil dikutip di Jakarta, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurutnya, business matching menjadi instrumen utama JHEC. Pertemuan antara pelaku usaha dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing pihak sehingga peluang kerja sama yang tercipta lebih terarah.

Pelaku usaha dari luar negeri dapat mencari mitra distribusi di Indonesia. Sementara pengusaha dalam negeri memperoleh kesempatan menjajaki peluang membawa produk mereka ke pasar ekspor.

“Kita melakukan business matching di sini, menyesuaikan dengan produk-produk yang ada, produk yang mereka butuhkan. Indonesia butuh apa, mereka butuh apa — KPMI melakukan wadah itu dalam bentuk business matching di Jakarta Halal Expo and Conference,” terang Fadhil.

Fadhil mengatakan, skema tersebut juga menjadi upaya untuk meningkatkan skala bisnis pelaku usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menurutnya, banyak UMKM Indonesia telah memiliki produk berkualitas, namun masih menghadapi keterbatasan jaringan untuk menembus pasar internasional.

“Banyak UMKM kita produknya sudah bagus, tapi jaringannya berhenti di pasar lokal. Lewat business matching ini, mereka duduk langsung dengan buyer dan distributor luar negeri. Itu yang selama ini menjadi jarak, dan itu yang ingin KPMI jembatani,” katanya.

JHEC 2026 mencakup tujuh sektor industri halal, yakni food and beverages, health and pharmaceuticals, beauty and personal care, fashion and garments, halal tourism, business solutions, serta sharia-compliant finance.

Keragaman sektor tersebut menunjukkan perkembangan industri halal yang tidak lagi terbatas pada produk makanan dan minuman, tetapi telah mencakup berbagai kebutuhan dan layanan.

Rangkaian JHEC 2026 meliputi exhibition, business matching, product demo, Halalpreneur Pitchfest, serta konferensi yang membahas perkembangan industri halal.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal sekaligus Plt. Kepala Sekretariat Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Dr. Arief Wibisono, menilai forum seperti JHEC akan memberikan dampak lebih besar apabila koneksi yang terbentuk selama acara dapat berlanjut setelah pameran berakhir.

“Forum ini mempertemukan pelaku usaha, konsumen, mitra bisnis, pendidik, pembiayaan, investor, serta berbagai inovasi dan jejaring yang dapat membuka peluang pertumbuhan usaha,” ucap Arief.

Ia berharap pertemuan bisnis yang berlangsung selama JHEC tidak berhenti pada transaksi selama tiga hari penyelenggaraan.

“Akhirnya, kita ingin semakin banyak usaha halal sehingga Indonesia naik kelas, produk halal semakin berdaya saing di pasar global, dan manfaat pertumbuhan ekonomi syariah semakin luas dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya itu, potensi pada JHEC juga ternyata menjadi pintu pintu masuk produk halal Indonesia ke pasar internasional juga mendapat perhatian dari Kedutaan Besar Malaysia.

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia terpilih (Ambassador-Designate), H.E. Dato’ Muzafar Shah bin Mustafa, mengatakan pengembangan industri halal menjadi salah satu sektor yang berpotensi memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia.

“Kita juga akan berkolaborasi dalam hal-hal yang berkaitan untuk terus mempromosikan industri halal. Sebagai duta Malaysia, kita juga melihat peluang untuk berkolaborasi dalam hal ini kerana ia juga memberi faedah untuk kedua-dua negara,” ujarnya.

Setelah meninjau produk yang ditampilkan, Dato’ Muzafar menilai produk halal Indonesia memiliki kualitas dan potensi untuk menembus pasar internasional.

Namun, ia menilai promosi produk Indonesia di pasar luar negeri masih perlu diperluas agar semakin banyak konsumen internasional mengenal produk halal asal Indonesia.

“Saya rasa event-event sebegini amat bagus dan sesuai untuk kita mempromosikan produk-produk halal supaya dia dapat menembusi pasaran antarabangsa,” katanya.

Kerja sama Indonesia dan Malaysia di sektor halal juga berpeluang dikembangkan melalui kolaborasi antarlembaga halal kedua negara. Pembahasan kerja sama tersebut diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk kesepakatan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....