Yeyen Darmawan, Merawat Budaya Minangkabau lewat Layar
- 03 Okt 2026 06:30 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Yeyen Darmawan adalah sineas asal Sumatera Barat yang lahir di Kota Solok pada 24 November dan kini berdomisili di Pariaman dengan latar belakang budaya Melayu Jambak.
- Pendidikan formal Yeyen dari SMK Televisi dan Broadcasting dilanjutkan hingga jenjang Master Seni Televisi dan Film di ISI Padang Panjang dengan fokus pada Film Studies dan tema Estetika Film Indie Minangkabau.
- Yeyen telah meraih berbagai penghargaan bergengsi termasuk Lulusan Terbaik Sarjana Seni Film 2018, Film Terbaik Umum dan Film Terbaik Pelajar Sumbar Film Festival 2018, serta Kaluak Paku Award Festival Film Minang 2018.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hendarti Darmawan atau yang dikenal dengan nama panggung Yeyen Darmawan merupakan sineas asal Sumatera Barat yang konsisten menekuni dunia film sekaligus seni budaya. Lahir di Kota Solok, 24 November, Yeyen merupakan putri ketujuh dari delapan bersaudara. Bersuku Melayu Jambak, kini ia berdomisili di Kota Pariaman. Kecintaannya pada dunia film telah tumbuh sejak 2009, ketika masih bersekolah di Tangerang dan mulai bergaul dengan sejumlah anak yang berkecimpung di dunia seni dan perfilman.
Minat tersebut semakin kuat ketika Yeyen menempuh pendidikan SMK jurusan Televisi dan Broadcasting. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 hingga S2 Seni Televisi dan Film di ISI Padang Panjang, dengan fokus Film Studies. Tesis magisternya mengangkat tema Estetika Film Indie Minangkabau. Perjalanan akademik dan kreativitasnya pun melahirkan sejumlah prestasi, di antaranya Lulusan Terbaik Sarjana Seni Film 2018, Film Terbaik Umum dan Film Terbaik Pelajar pada Sumbar Film Festival 2018, Kaluak Paku Award Festival Film Minang 2018, hingga ide cerita terpilih dalam Masterclass SCENE 2021 dan 2024.
Baca Juga: Mujahid Rasyid, Santri Muda yang Tekun Menuntut Ilmu dan Berkarya
| Baca juga: Menguliti Sukerta di Teduh Hutan UI |
Baca Juga: Hengky Nasution, ASN yang Tetap Berkarya lewat Musik Minang
Baca Juga: Mira Gusniwati: Mengabdi lewat Pendidikan dan Kewirausahaan
Yeyen menjelaskan perihal perjalanannya mencintai sineas lebih mendalam, melalui sambungan telp, di acara Apresia Budaya Minangkabau, Minang Bakaba Lamak Didanga, Rabu malam, 23 September 2026.
Sejak menyelesaikan pendidikan pascasarjana pada 2020, saya aktif dalam memproduksi film, pendidikan, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan film yang ada di Sumatera Barat dan tingkat nasional. Alhamdulillah, sebelumnya, saya juga pernah terlibat dalam industri televisi, mengajar produksi film di SMKN 1 Solok, menjadi mentor, narasumber, hingga juri festival film", ujar Yeyen.

Saat ini, ia mendirikan Studio Mozaik Art Laboratory dan Yayasan Seni dan Film Maha Mozaik Indonesia di Kota Pariaman. Baginya, film bukan sekadar karya visual, tetapi ruang untuk menyampaikan cerita dan memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat.
Yeyen melihat perkembangan film Indonesia yang mengangkat budaya Minangkabau sebagai sesuatu yang positif karena membuat kekayaan budaya tersebut semakin dikenal, terutama oleh generasi muda Minang sendiri. Namun, ia berharap penggunaan bahasa dan logat Minangkabau dalam film dapat lebih konsisten. Menurutnya, penggunaan bahasa Minangkabau secara utuh justru dapat memberikan pengalaman yang lebih kuat kepada penonton untuk mengenal Ranah Minang, sementara subtitle dapat membantu penonton dari luar daerah memahami dialog. Ia juga terus mendorong generasi muda menggali nilai budaya melalui pelatihan film dan seni, sehingga karya kreatif tidak hanya menjadi hiburan, tetapi turut membentuk karakter dan cara berpikir.
Baca Juga: Swara SeadaNya Bawa Bunyi Nusantara ditengah Parade Band Depok
Semangat Yeyen dalam berkarya tidak terlepas dari dukungan kedua orang tuanya, almarhum Darmawan St. Marajo dan almarhumah Nurhaida, yang semasa hidup selalu mendukung pilihan pendidikannya di bidang seni. Ada satu pesan yang terus ia pegang hingga kini, yakni jangan pernah meninggalkan salat dan selalu berbuat kebaikan. Kepada anak muda Minang dan generasi muda Indonesia, Yeyen berpesan agar tidak takut memulai dan terus berkarya dengan hati. “Tidak ada yang tidak mungkin kecuali tidak mau,” menjadi semangatnya untuk terus berkarya, meski menghadapi berbagai tantangan dalam proses perjalanan.

Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....