Ki Fakih Tri Sera, Dalang Muda Peruwat Hutan UI

  • 01 Sep 2026 18:03 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pesan yang tertinggal bukan sekadar tentang pentingnya menjaga hutan, tetapi juga tentang perlunya merawat kesadaran manusia.
  • Melalui kepiawaian Ki Fakih Tri Sera dan kolaborasi lintas komunitas serta lembaga, Wayangan Ruwat Rawat

RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana teduh dan sejuk menyelimuti pepohonan Hutan Universitas Indonesia (UI), Depok, saat pertunjukan Wayangan Ruwat Rawat Hutan digelar pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026. Di balik kelir, dalang muda Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi tampil membawa lakon Bambang Sudamala. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Komunitas Makara, Direktorat Kebudayaan UI, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Urban Spiritual Indonesia, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI. Lakon Bambang Sudamala dipilih karena mengandung pesan tentang penyucian, pembebasan dari kutukan, serta pemulihan harmoni. Kehadiran sejumlah tokoh, di antaranya Dr. Usman Kansong yang mewakili Wakil Ketua MPR RI Dr. Lestari Moerdijat, Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Prof. Dr. Darmoko, Dr. Ari Prasetiyo, Dr. Turita Indah Setyani, dan Ki Mugi Yusuf Raharjo, turut memperkuat suasana reflektif dalam pertunjukan.

(Foto: Humas Komoenitas Makara)

Baca Juga : Wayangan Ruwat Hutan, Ikhtiar Merawat Alam di Universitas Indonesia

Baca Juga : Sedekah Hutan 2026, Merawat Alam lewat Budaya dan Kepedulian

Baca Juga : Urban Spiritual Indonesia Menjemput Tenang di Tujuh Sumur Vihara Gayatri

Bagi Ki Fakih, wayang bukan sekadar seni pertunjukan. Sejak kecil, ia telah mengenal dunia pewayangan dan belajar menghidupkan tokoh-tokoh melalui sabetan wayang kulit. Ketekunannya membawa sejumlah prestasi, mulai dari festival dalang anak tingkat lokal hingga penghargaan di tingkat nasional. Meski demikian, berbagai pencapaian tersebut tidak membuatnya berjarak dengan tradisi. Ia tetap memandang wayang sebagai laku hidup sekaligus ruang untuk memahami nilai dan filosofi kehidupan.

Lakon Bambang Sudamala kemudian dipertemukan dengan semangat Ruwat Rawat Hutan. Kisah Sadewa yang meruwat Dewi Durga menjadi Dewi Uma dimaknai sebagai gambaran tentang perlunya pemulihan dan penyucian. Dalam konteks lingkungan, hutan tidak hanya membutuhkan perawatan secara fisik, tetapi juga perubahan cara pandang manusia. Kerusakan alam, dalam pesan pertunjukan tersebut, tidak dapat dilepaskan dari mentalitas manusia yang terlalu mengejar kepentingan dan melupakan keseimbangan.

(Foto: Humas Komoenitas Makara)

Baca Juga : Komunitas Tari Satria Buwana, Menjaga Tari Tradisi

Baca Juga : Pesona Nusantara Angkat Keindahan Kebaya dan Sanggul

Ketika sinar matahari mulai menembus celah pepohonan, pertunjukan pun berakhir dalam suasana hening. Pesan yang tertinggal bukan sekadar tentang pentingnya menjaga hutan, tetapi juga tentang perlunya merawat kesadaran manusia. Melalui kepiawaian Ki Fakih Tri Sera dan kolaborasi lintas komunitas serta lembaga, Wayangan Ruwat Rawat Hutan menghadirkan kembali wayang sebagai media refleksi kebudayaan. Sebuah pesan sederhana pun mengemuka, alam akan lebih mudah dirawat ketika manusia terlebih dahulu mampu meruwat dirinya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....