Menguliti Sukerta di Teduh Hutan UI

  • 01 Sep 2026 18:02 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Ratusan peserta dalam kirab mengenakan wastra Nusantara berjalan dari Gedung Makara Art Center menuju Hutan Kampus UI pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026.
  • Pagelaran wayang purwa lakon Bambang Sudamala oleh Dalang Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi menjadi bagian pembukaan acara sebelum kegiatan meditasi.
  • Dr. Turita Indah Setyani, Pendiri Urban Spiritual Indonesia, memimpin sesi meditasi dengan teknik pernapasan sederhana dan perenungan di lokasi yang teduh di sekitar Danau Kenanga.

RRI.CO.ID, Jakarta -Di hari Sabtu pagi, 29 Agustus 2026, di Hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) masih diselimuti embun dan kabut tipis di sekitar Danau Kenanga. Sejak pukul 07.00 WIB, seratusan peserta mengenakan wastra Nusantara berjalan dalam kirab dari Gedung Makara Art Center menuju kawasan hutan. Suasana hening terasa semakin kuat setelah pagelaran wayang purwa lakon Bambang Sudamala oleh Dalang Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi berakhir.

Dalam suasana teduh itu, para peserta duduk bersila mengikuti meditasi yang dipimpin Dr. Turita Indah Setyani, S.S., M.Hum., Pendiri Urban Spiritual Indonesia. Dengan suara tenang, ia mengajak peserta memejamkan mata, mengatur napas, dan menyadari apa yang ada di dalam diri. Kalimat sederhana, “Tarik napas, sadari, lepaskan,” menjadi pintu untuk mengajak peserta memasuki ruang perenungan yang lebih dalam.

(Foto: Pusinfo Urban Spiritual Indonesia)

Baca Juga: Wayangan Ruwat Hutan, Ikhtiar Merawat Alam di Universitas Indonesia

Baca Juga: Sedekah Hutan 2026, Merawat Alam lewat Budaya dan Kepedulian

Baca Juga: Urban Spiritual Indonesia Menjemput Tenang di Tujuh Sumur Vihara Gayatri

Melalui meditasi, peserta diajak memahami konsep sukerta dalam tradisi Jawa, yakni keadaan ketika batin manusia mengalami ketidakseimbangan dan hubungan dengan alam semesta mulai renggang. Hutan tidak dipandang hanya sebagai ruang ekologis yang harus dijaga, tetapi juga sebagai cermin kondisi batin manusia. Dalam keheningan, suara dedaunan dan udara hutan menjadi bagian dari proses untuk mengenali diri dan melepaskan beban pikiran.

Meditasi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Wayangan Ruwat Rawat Hutan, hasil kolaborasi Direktorat Kebudayaan UI, MPR RI, Komunitas Makara, Urban Spiritual Indonesia, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI. Secara konseptual, ruwat berasal dari kata luwar, yang bermakna lepas atau bebas. Karena itu, meruwat hutan dimaknai sebagai upaya membangun kembali keseimbangan hubungan manusia, alam, dan kehidupan melalui pendekatan budaya serta kearifan lokal.

(Foto: Pusinfo Urban Spiritual Indonesia)

Baca Juga: Pesona Nusantara Angkat Keindahan Kebaya dan Sanggul

Dr. Turita sendiri memiliki pengalaman panjang dalam bidang akademik dan kebudayaan. Sosok Perempuan kelahiran Semarang, 8 Januari 1961, itu telah menjadi dosen Program Studi Sastra Jawa FIB UI sejak 1990 dan pernah dipercaya sebagai Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Susastra FIB UI. Menjelang tengah hari, ketika kabut mulai menghilang, para peserta membuka mata dalam suasana tenang. Dari kegiatan tersebut lahir pesan sederhana namun kuat: merawat hutan tidak cukup hanya dengan menjaga alam, tetapi juga dengan meruwat kesadaran manusia yang hidup di dalamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....