Hari Penerjemahan Internasional, Badan Bahasa Angkat Kisah Sosrokartono

  • 30 Sep 2026 18:02 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Bahasa Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memperingati Hari enerjemahan Internasional yang jatuh setiap 30 September. Peringatan tahun ini mengangkat tema “Keberagaman Bahasa dan Hak Kebahasaan: Berdaya karena Dipahami”.

Dilansir akun instagram @badanbahasakemendikbud, melalui penerjemahan, perbedaan bahasa membuka ruang perjumpaan, pengetahuan dapat dijangkau lebih luas, karya sastra menemukan pembaca baru, dan suara dari berbagai bahasa dapat didengar oleh lebih banyak orang.

“Terima kasih kepada para penerjemah dan juru bahasa yang tekun menjaga makna serta mendekatkan manusia melalui bahasa. Mari, rayakan keberagaman bahasa dan terus membuka ruang untuk saling memahami.” bunyi tulisan di akun tersebut, dikutip Rabu 30 September 2026.

Tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Penerjemahan Internasional untuk mengenang Santo Jerome, penerjemah Alkitab yang dianggap sebagai pelindung para penerjemah. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi menetapkan 30 September sebagai Hari Penerjemahan Internasional melalui Resolusi 71/288 yang diadopsi Majelis Umum PBB pada 24 Mei 2017.

Resolusi tersebut menekankan peran penting penerjemahan profesional dalam menghubungkan bangsa-bangsa, mendorong dialog, pemahaman dan kerja sama, serta memperkuat perdamaian dan keamanan dunia.

Dalam rangka memperingati momen ini, Badan Bahasa turut mengangkat sosok Raden Mas Panji Sosrokartono sebagai penerjemah dan juru bahasa pertama di Indonesia. R.M.P. Sosrokartono lahir di Jepara pada 10 April 1877 dan merupakan kakak kandung dari R.A. Kartini.

Sosrokartono menempuh pendidikan di Universitas Leiden, Belanda, dengan bidang Bahasa dan Kesusastraan Timur. Ia dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam menguasai lebih dari 35 bahasa, sehingga mendapat julukan “Si Jenius dari Timur”.

Saat Perang Dunia I berlangsung, Sosrokartono sempat menjadi wartawan perang untuk The New York Herald Tribune dan meliput berbagai peristiwa penting di Eropa. Setelah perang usai, ia dipercaya menjadi Kepala Juru Bahasa Liga Bangsa-Bangsa, kemudian menjabat sebagai Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Den Haag.

Pada 1925, Sosrokartono kembali ke Indonesia dan mengajar di Taman Siswa atas tawaran Ki Hajar Dewantara. Ia mengalami kelumpuhan sejak 1942 dan wafat pada 8 Februari 1954 dalam usia 74 tahun.

Melalui perayaan Hari Penerjemahan Internasional ini, Badan Bahasa mengajak masyarakat untuk semakin menghargai peran penerjemah dan juru bahasa dalam menjembatani keberagaman bahasa, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya hak kebebasan bagi setiap individu. (Haura Zahra Ramadhania - Universitas Negeri Jakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....