Fungsi Radio Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Batak
- 08 Sep 2026 21:23 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Radio dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Batak di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Pandangan tersebut disampaikan Rikardo Marbun, SIP., Sekretaris Departemen Adat Istiadat dan Puak-puak Batak Center, saat hadir langsung di Studio Pro 4 RRI Jakarta dalam acara “Apresiasi Budaya Batak”, Senin, 7 September 2026. Dalam dialog yang dipandu host Dermawan Ismail, Rikardo menyoroti bagaimana media radio dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan, mengingatkan, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Batak kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut Rikardo, radio tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai informasi, tetapi juga dapat menjadi jembatan antara generasi tua dengan generasi muda dalam memahami identitas budaya. Melalui program-program yang mengangkat sejarah, adat istiadat, bahasa Batak, musik tradisional, hingga kisah tokoh dan kehidupan masyarakat Batak, radio mampu menghadirkan budaya dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Budaya itu tidak cukup hanya disimpan atau dikenang. Budaya harus terus dibicarakan, diperkenalkan, dan diwariskan. Radio mempunyai kekuatan untuk melakukan itu karena suara bisa menjangkau siapa saja dan menciptakan kedekatan dengan pendengarnya,” demikian sudut pandang Rikardo dalam perbincangan tersebut.
Ia menambahkan, keberadaan program budaya di radio juga dapat menjadi sarana edukasi yang menarik bagi anak muda Batak yang hidup di tengah lingkungan multikultural. Menurutnya, pelestarian budaya tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman, melainkan bagaimana masyarakat mampu membawa nilai-nilai budaya ke dalam konteks kehidupan modern. Radio dapat memainkan peran tersebut dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, memperdengarkan lagu-lagu Batak, membahas makna umpasa dan falsafah Batak, serta membuka ruang dialog mengenai adat dan identitas puak-puak Batak. Dengan pendekatan yang komunikatif, budaya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai identitas yang tetap relevan dan memiliki nilai dalam kehidupan masa kini.
Rikardo juga melihat RRI, khususnya Pro 4 RRI Jakarta, memiliki posisi penting dalam memperkuat siaran kebudayaan karena radio publik mempunyai ruang untuk menghadirkan keragaman budaya Indonesia. Kehadiran dirinya dalam acara “Apresiasi Budaya Batak” menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai kekayaan budaya Batak sekaligus mendorong agar pembahasan mengenai adat dan tradisi tidak berhenti di lingkungan komunitas saja. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga penyiaran, komunitas budaya, tokoh adat, seniman, dan generasi muda perlu terus diperkuat agar pelestarian budaya memiliki kesinambungan. “Kalau budaya terus diberi ruang untuk bersuara, maka budaya itu akan tetap hidup,” menjadi semangat yang tercermin dalam pembahasan tersebut.
Melalui acara yang dipandu Dermawan Ismail itu, Rikardo menegaskan bahwa radio dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keberadaan budaya Batak di tengah perubahan zaman. Pelestarian tidak hanya berbicara mengenai mempertahankan bentuk-bentuk tradisi, tetapi juga memastikan nilai, bahasa, sejarah, dan jati diri budaya tetap dipahami oleh generasi berikutnya. Karena itu, siaran radio yang konsisten mengangkat kebudayaan dinilai dapat menjadi “ruang ingatan” bagi masyarakat sekaligus ruang belajar bagi generasi muda. Dari Studio Pro 4 RRI Jakarta, pesan yang mengemuka cukup jelas: ketika budaya terus diceritakan, didengar, dan dipahami, maka identitas budaya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....