5 Desember Ditetapkan Sebagai Hari Kolintang Nasional
- 18 Sep 2026 19:29 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID , Jakarta : Alunan musik kolintang menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia yang terus berkembang dan mendapat pengakuan dunia. Perjuangan panjang dalam melestarikan dan memperkenalkan alat musik tradisional asal Minahasa, Sulawesi Utara, ini menjadi bahasan menarik dalam program Obrolan Budaya RRI Pro4 92,8 FM Jakarta, Jumat 18 September 2026, pukul 10.15 WIB.
Dipandu oleh host Nova Calysta, program ini menghadirkan Penny Iriana Marsetio, Ketua Umum DPP Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia. Mengangkat tema “Kolintang Mendunia, 5 Desember Jadi Hari Nasional”, dialog ini mengulas perjalanan kolintang dari lingkungan terbatas hingga dikenal di panggung internasional.
Perjuangan Penny Iriana Marsetio dalam mengembangkan kolintang telah dimulai sejak tahun 1981, ketika dirinya menjadi istri seorang perwira TNI Angkatan Laut. Pada masa itu, kolintang masih dimainkan dalam lingkup terbatas, khususnya di kalangan istri-istri perwira Angkatan Laut. Berawal dari kecintaan terhadap musik tradisional tersebut, Penny terus memainkan dan memperkenalkan kolintang agar semakin dikenal masyarakat luas.
| Baca juga: Peran Anak Muda Bukan Cuma Pemanis Acara |
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan, konsistensi, serta semangat untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Bagi Penny, kolintang bukan sekadar alat musik, melainkan identitas budaya yang harus diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Upaya pelestarian tersebut semakin berkembang melalui PINKAN Indonesia. Organisasi ini terus mendorong kolintang agar semakin dikenal, dimainkan, dan diapresiasi oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satu langkah penting dilakukan saat pandemi COVID-19, ketika PINKAN menggandeng Radio Republik Indonesia (RRI) menyelenggarakan lomba kolintang secara daring yang melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dan antusiasme masyarakat. Melalui ruang digital, para pecinta kolintang tetap dapat berkreasi, berkompetisi, serta menunjukkan kemampuan mereka meskipun berada dalam situasi pandemi. Kolaborasi ini sekaligus memperluas jangkauan kolintang hingga melampaui batas wilayah dan menjadi sarana mempererat kecintaan masyarakat terhadap budaya Nusantara.
RRI turut memiliki peran penting dalam perjalanan perjuangan PINKAN memperkenalkan kolintang kepada masyarakat luas. Melalui siaran radio dan berbagai kegiatan kebudayaan, RRI menjadi ruang untuk menyuarakan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mendukung upaya memperkenalkan kolintang hingga ke tingkat internasional.
Penny juga menyoroti pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia agar tidak kehilangan identitas dan pengakuannya. Kekhawatiran terhadap kemungkinan negara lain mengklaim kolintang sebagai bagian dari budaya mereka menjadi salah satu dorongan untuk terus memperkuat pelestarian dan pengakuan internasional. Terlebih, negara-negara lain juga memiliki sumber daya yang mumpuni untuk mengembangkan dan mempromosikan kebudayaannya.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil penting pada tahun 2024, ketika Kolintang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Pengakuan ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlanjutan kolintang. Status tersebut bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan langkah awal untuk semakin memperluas apresiasi dan memastikan kolintang terus hidup di tengah masyarakat.
Selain memperkuat pengakuan dunia, PINKAN Indonesia kini juga mendorong agar tanggal 5 Desember ditetapkan sebagai Hari Kolintang Nasional. Upaya ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian musik kolintang, sekaligus mengajak lebih banyak generasi muda mengenal dan mencintai budaya bangsa.
Tidak berhenti sampai di situ, PINKAN juga tengah mengupayakan agar kolintang dapat masuk ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari pembelajaran atau kurikulum pendidikan. Langkah ini dinilai penting agar anak-anak tidak hanya mengenal kolintang sebagai alat musik tradisional, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempelajari, memainkan, dan mengembangkan kreativitas melalui musik tersebut sejak dini.
Melalui program Obrolan Budaya RRI Pro4 Jakarta, kisah Penny Iriana Marsetio menjadi inspirasi bahwa pelestarian budaya membutuhkan perjuangan panjang, kolaborasi, dan komitmen lintas generasi. Kolintang yang dahulu dimainkan dalam lingkungan terbatas kini semakin dikenal dunia, menjadi kebanggaan Indonesia, sekaligus pengingat bahwa warisan budaya akan terus hidup apabila diwariskan dan dicintai oleh generasi penerus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....