Keboen Sastra, Ruang Tumbuh Anak Jalanan lewat Seni dan Pendidikan
- 01 Agt 2026 02:00 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Bagi Herie Matahari, kebahagiaan terbesar adalah dapat berbagi ilmu musik, sastra, dan pengalaman hidup kepada anak-anak yang membutuhkan, sekaligus belajar dari semangat solidaritas yang tumbuh di lingkungan jalanan.
- Dengan mengusung konsep Art Therapy atau terapi melalui seni, Herie Matahari mengembangkan filosofi Memanusiakan Manusia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Berawal dari kepedulian terhadap masa depan anak-anak jalanan, Rumah Kreatif Keboen Sastra hadir sebagai ruang pembinaan yang mengedepankan seni, pendidikan, dan pembentukan karakter. Komunitas ini berdiri pada tahun 2011 dan kemudian bertransformasi menjadi Yayasan Rumah Kreatif Keboen Sastra pada tahun 2019. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Keboen Sastra, yang merupakan akronim dari Koempul Bersama Saatnya Berkarya. Nama tersebut juga memiliki keterkaitan dengan Kota Bogor, di mana kata "Keboen" mengingatkan pada Kebun Raya Bogor, sementara "Sastra" menjadi metode pembelajaran dan pendekatan dalam proses pembinaan.
Sosok di balik lahirnya Keboen Sastra adalah Herie Syahnilla Putra Siregar, yang akrab disapa Herie Matahari, Om Eng, atau Bang Ei. Gagasan itu bermula ketika ia melihat langsung kehidupan anak-anak jalanan di Terminal Baranangsiang, Bogor. Menurutnya, banyak di antara mereka memiliki bakat, terutama di bidang musik, tetapi tidak memiliki ruang yang tepat untuk mengembangkan potensinya. Dari situlah ia memulai perjalanan panjang mendampingi anak-anak jalanan agar memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, dan menemukan masa depan yang lebih baik.

Baca Juga : Kelompok Teater Kami mempersembahkan sajian memukau bertajuk "Sesuatu Ophelia"
Baca Juga : Menjaga Tradisi, Melalui Dialog Budaya antara Swara SeadaNya dan Pakualaman
Herie Syahnilla Putra Siregar Ketua Komunitas Kreatif Kreatif Keboen Sastra memaparkan konsep internal dari komunitasnya di acara Obrolan Komunitas, melalui sambungan telp, Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 27 Juli 2026, .
"Dengan mengusung konsep Art Therapy atau terapi melalui seni, Herie Matahari mengembangkan filosofi Memanusiakan Manusia. Melalui pendekatan tersebut, kami dari Keboen Sastra berupaya membangun kesadaran, mental yang kuat, serta karakter mandiri bagi anak-anak jalanan, anak terlantar, yatim piatu, maupun anak-anak yang memiliki semangat belajar tetapi membutuhkan pendampingan" ujar Herrie. Hingga kini, sekitar 150 anak telah mengikuti pembinaan di yayasan ini. Persyaratan utamanya adalah memiliki atau bersedia didampingi dalam pengurusan dokumen kependudukan, seperti Kartu Keluarga, akta kelahiran, dan KTP, serta memiliki kemauan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Beragam program terus dijalankan Keboen Sastra, mulai dari kegiatan belajar mengajar yang mencakup kelas seni dan budaya, Bahasa Inggris, Matematika, program Kejar Paket A, B, dan C, hingga pengajian rutin setiap Jumat malam. Selain itu, yayasan juga aktif dalam kegiatan sosial seperti Jumat Berkah, santunan anak yatim, pemberian beasiswa, bantuan modal usaha bagi keluarga anak binaan, pembagian sembako, pendampingan administrasi kependudukan, serta penyelenggaraan berbagai festival seni seperti *Rekkam Art Festival, **Pa'amprok Jonghok, dan *Rupa Kata. Berbagai prestasi pun berhasil diraih, di antaranya menjadi perwakilan anak jalanan pada Hari Anak Nasional 2018, Juara I Festival Musikalisasi Puisi Balai Bahasa 2019, Juara II Lomba Cipta Lagu Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2020, hingga menerima hadiah empat sepeda dari Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Anak Nasional 2022.

Baca Juga : Asnizarti, Bundo Kanduang yang Menjaga Minang di Sydney
Baca Juga : Menghidupkan Kembali Masjid sebagai Pusat Belajar
Bagi Herie Matahari, kebahagiaan terbesar adalah dapat berbagi ilmu musik, sastra, dan pengalaman hidup kepada anak-anak yang membutuhkan, sekaligus belajar dari semangat solidaritas yang tumbuh di lingkungan jalanan. Meski tantangan dalam membina anak-anak dengan latar belakang persoalan keluarga, ekonomi, maupun kehidupan bebas di jalan tidaklah ringan, ia bersama para pengurus memilih untuk tetap sabar dan ikhlas mendampingi mereka. Ke depan, Keboen Sastra berkomitmen memperkuat pendidikan berbasis seni dan budaya, sekaligus mewujudkan pembangunan sebuah Padepokan Seni pada tahun 2027 sebagai rumah kreatif yang semakin luas manfaatnya bagi generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....