Mengeksplorasi Tarompet Sunda lewat Inovasi Eyar Kukulear
- 09 Sep 2026 05:29 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Alat musik tradisional Sunda, tarompet pencak, kini terus menemukan ruang baru di tengah pesatnya perkembangan musik modern. Tak lagi terbatas pada seni pertunjukan pencak silat, instrumen ini mulai dieksplorasi secara luas untuk mengisi berbagai genre musik populer. Salah satu wujud nyatanya ditampilkan melalui pagelaran Eyar Kukulear yang digelar pada Juni 2026 sebagai wadah melampaui batas tradisi. Upaya inovatif ini sekaligus menjadi ruang bagi para seniman untuk memperkenalkan potensi besar tarompet kepada khalayak luas.
Seniman sekaligus pemain tarompet, Dede Yanto, S.Sn., atau yang akrab disapa Dede Empet, menjelaskan makna di balik penamaan Eyar Kukulear. “Diambil dari kata Eyar itu, kalau di bahasa Sunda itu cukup booming ya, mungkin kalau sekarang zamannya viral,” ujar Dede saat memberikan penjelasannya. Sementara itu, kata Kulear merujuk pada melodi khas yang biasa dimainkan tarompet dalam pertunjukan pencak silat. Konsep perpaduan ini kemudian dikembangkan menjadi bentuk sajian yang lebih segar dan adaptif.
Dede mengungkapkan bahwa gagasan eksplorasi ini muncul setelah melihat besarnya potensi tarompet pencak dalam kolaborasi musik modern. “Saya ingin menyuguhkan atau menampilkan beberapa pertunjukan tarompet yang berbagai jenis genre, berbagai jenis pertunjukan dan sajian yang dikemas,” katanya. Menurutnya, alat musik tradisional tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan sanggup berkolaborasi dengan musik populer. Eksplorasi lintas genre ini diharapkan mampu memperluas jangkauan keberadaan tarompet sekaligus membuka peluang baru bagi para musisinya.
Eksplorasi ini didukung oleh karakter tarompet pencak yang fleksibel karena memiliki tujuh lubang nada untuk mengeksplorasi melodi di luar tangga nada pentatonis. Dede bahkan telah mengawali eksperimennya sejak tahun 2000 dengan memadukan tarompet bersama alat musik Barat seperti keyboard dan gitar. Fleksibilitas serta kemudahan penyesuaian teknik membuat instrumen khas Sunda ini sangat potensial untuk terus dikembangkan. Hal ini membuktikan bahwa penguasaan teknik penjarian yang baik mampu membawa instrumen tradisional masuk ke ranah musik modern.
Inovasi kebudayaan ini turut diulas dalam siaran Suara Budaya Nusantara edisi Senin, 7 September 2026. Program tersebut disiarkan secara berjaringan oleh RRI Bandung dan RRI Jakarta pada pukul 13.00–14.00 WIB. Mengangkat tema "Ear Ku kolear (Karya Tarompet Penca Lintas Generasi Yang Menjadi Identitas Fenomenal Dalam Populasi Tarompet Penca Di Jawa Barat Dan Banten)", siaran ini dipandu oleh Host RRI Bandung, Rosyanti, bersama Host RRI Jakarta, Jo Adithya. Dialog interaktif ini hadir untuk mengedukasi masyarakat mengenai keberlanjutan tradisi lokal.
Melalui kolaborasi lintas genre, karakter khas tarompet Sunda kini dapat diperkenalkan secara lebih luas kepada generasi muda. Kehadiran Eyar Kukulear menjadi bukti nyata bahwa merawat tradisi tidak berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Justru lewat adaptasi yang tepat, warisan budaya Nusantara dapat terus hidup dan bergerak secara dinamis. Dari panggung pencak silat hingga belantika musik populer, tarompet membuktikan kekayaan seni tradisi yang tidak pernah padam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....