Mengenal Tradisi Karia, Ritual Pembersih Jiwa Perempuan Muna
- 09 Sep 2026 05:30 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Di tengah pesatnya arus modernisasi, masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara masih merawat sebuah ritual adat sakral yang sarat makna kehidupan. Tradisi Karia hadir bukan sekadar festival perayaan tahunan, melainkan medium pendidikan karakter utama bagi kaum perempuan setempat. Lewat rangkaian prosesi yang panjang, para remaja putri dibimbing untuk memahami hakikat kedewasaan dan kesiapan membina rumah tangga. Keberadaan ritual ini menjadi bukti betapa luhurnya nilai-nilai lokal yang diwariskan oleh leluhur Nusantara.
Pengamat kebudayaan sekaligus Ketua Jurusan Tradisi Lisan FIB Universitas Halu Oleo, Dr. Rahmat Sewa Suraya, S.Sos., M.Si., mengulas arti mendalam di balik penamaan ritual ini. "Secara kebahasaan, Karya ini berasal dari kata kari yang artinya sikat atau membersihkan diri dari hal negatif," ungkap Dr. Rahmat. Selain bermakna penyucian jiwa secara personal, kata Karia dalam bahasa Muna juga menggambarkan suasana riuh yang penuh kebersamaan. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa tradisi ini turut berfungsi mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Lebih jauh, Dr. Rahmat menjelaskan bahwa prosesi adat ini memegang peranan krusial dalam siklus hidup seorang wanita. "Ini adalah tradisi peralihan di mana dipersiapkan untuk perempuan yang akan mengalami masa remaja ke dewasa dan mempersiapkan diri ke jenjang pernikahan," jelasnya. Sepanjang ritual, para calon wanita dewasa dibekali wejangan moral untuk membentuk keteguhan mental serta etika. Pembekalan karakter ini menjadi modal utama agar mereka mampu tumbuh menjadi sosok yang tangguh saat berkeluarga.
Tantangan pelestarian tradisi Karia kini kian nyata berhadapan dengan perkembangan zaman. Generasi muda Muna diharapkan tidak sekadar menjadi penonton, melainkan terlibat aktif menjaga keberlanjutan warisan mulia ini. Pemahaman filosofi secara mendalam sangat penting agar ritual adat tidak kehilangan esensi dan berubah menjadi seremonial belaka. Sinergi antara pemerintah daerah, pemangku adat, dan media massa menjadi kunci utama agar narasi kebudayaan ini terus bergema.
| Baca juga: Religiositas yang Menyatukan Suku Batak |
Ulasan mendalam mengenai nilai-nilai tradisi Karia ini menjadi bagian dari siaran Suara Budaya Nusantara edisi Kamis, 3 September 2026. Program tersebut disiarkan secara berjaringan oleh RRI Kendari dan RRI Jakarta pada pukul 13.00–14.00 WIB. Dialog bertajuk "Karia Bukan Sekadar Tradisi: Filosofi, Pendidikan Karakter dan Tantangan Pelestariannya" ini dipandu oleh Raras Pramesthi (Host RRI Kendari) dan Jo Adithya (Host RRI Jakarta). Edukasi kebudayaan yang dikemas interaktif ini hadir untuk memantik kebanggaan publik terhadap identitas daerah.
Melalui program ini, RRI menegaskan komitmennya untuk terus mengangkat kearifan lokal ke hadapan khalayak luas. Tradisi Karia memberikan bukti nyata bahwa adat istiadat Nusantara senantiasa menyimpan ajaran moral berharga bagi pembentukan karakter bangsa. Merawat dan melestarikan kekayaan budaya lokal merupakan langkah nyata dalam menjaga martabat Indonesia di mata dunia. Keberlanjutan tradisi ini berada di tangan generasi penerus agar nilainya tetap lestari hingga masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....