Wayangan Ruwat Rawat Hutan UI Gaungkan Kesadaran Ekologi

  • 29 Agt 2026 23:03 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pelestarian hutan tidak hanya membutuhkan pendekatan teknis dan regulasi, tetapi juga perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Wayangan Ruwat Rawat Hutan bertema Strategi Kebudayaan dalam Pelestarian Lingkungan Hidup di hutan kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan yang digelar Komoenitas Makara bersama Direktorat Kebudayaan UI, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Urban Spiritual Indonesia, serta Program Studi Sastra Jawa FIB UI itu memadukan tradisi Nusantara, seni pertunjukan, spiritualitas, serta kajian akademis. Sejumlah tokoh budaya, akademisi, pegiat lingkungan, hingga masyarakat umum turut ambil bagian.

Rangkaian kegiatan diawali kirab budaya yang diikuti ratusan peserta dari sivitas akademika UI, pegiat kebudayaan, serta masyarakat umum. Mengenakan berbagai wastra Nusantara, peserta bergerak dari Gedung Makara Art Center UI menuju kawasan hutan kota di tepi Danau Kenanga.

Suasana kemudian berlanjut dengan doa yang dipimpin Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al-Zastrouw dan ritual adat oleh praktisi kebudayaan Ki Mugi Yusuf Raharjo. Prosesi tersebut diiringi musik etnik bernuansa meditatif serta ilustrasi gerak tari dari kelompok Swara SeadaNya.

Puncak kegiatan budaya ditandai pertunjukan wayang kulit oleh Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi dengan lakon Bambang Sudamala. Lakon tersebut menjadi medium untuk merefleksikan gagasan tentang manusia, keseimbangan alam, serta upaya membebaskan diri dari berbagai bentuk ancaman atau malapetaka.

Pakar Kebudayaan Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko menjelaskan, konsep ruwat berkaitan erat dengan upaya manusia menyelaraskan dirinya dengan dinamika kehidupan dan kesejagadan. Dalam pandangan tradisi Jawa, kondisi sukerta dipahami sebagai keadaan yang perlu dilepaskan atau dibebaskan dari malapetaka.

“Ruwat itu sendiri berasal dari kata luwar yang berarti lepas atau bebas. Upaya meruwat diharapkan dapat membebaskan seseorang atau kelompok sosial dari malapetaka sekaligus memulihkan keseimbangan alam semesta,” ujar Darmoko.

Perspektif tersebut kemudian diperluas melalui meditasi bersama yang dipimpin Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani. Di tengah rimbunnya hutan UI, peserta diajak melihat alam bukan sekadar ruang ekologis di luar diri, melainkan juga sebagai cermin kehidupan manusia dan kondisi batinnya.

( Wayang hadir di tengah rimbunnya hutan UI, menyatukan tradisi, spiritualitas, dan pesan penting: merawat hutan berarti merawat kehidupan. (doc : Humas Komoenitas Makara dan Humas Direktorat Kebudayaan UI)

“Kerusakan lingkungan juga dapat berawal dari cara manusia berpikir, ketika keserakahan, ketidakpedulian, dan keterputusan dari alam menguasai kesadaran,” kata Turita.

Wakil Ketua MPR RI Dr. Lestari Moerdijat dalam sambutan videonya menilai persoalan lingkungan tidak semata-mata berkaitan dengan aspek teknis, ekonomi, maupun regulasi. Menurutnya, krisis lingkungan juga merupakan persoalan nilai, cara pandang, dan kebudayaan.

“Hutan bukan sekadar hamparan pohon atau lahan yang menunggu dimanfaatkan. Hutan adalah sumber kehidupan, sumber air, penyangga pangan, pengendali iklim, ruang hidup masyarakat, dan rumah keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al-Zastrouw menegaskan, kesadaran menjaga hutan sejatinya telah hidup dalam berbagai tradisi masyarakat Nusantara. Ketika krisis lingkungan semakin mengancam kehidupan, nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk kembali digali sebagai strategi kebudayaan.

Sementara itu, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan mengatakan kegiatan tersebut diharapkan membuka ruang baru dalam upaya pelestarian lingkungan berbasis kebudayaan. Tradisi lokal dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menghadapi kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

“Pendekatan berbasis kebudayaan dapat menjadi strategi alternatif yang efektif dan inklusif dalam kebijakan pelestarian hutan nasional,” kata Fitra.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan focus group discussion (FGD) yang membahas dimensi akademis dan sosiologis Wayangan Ruwat Rawat Hutan. Diskusi menghadirkan Dr. Usman Kansong yang mewakili Wakil Ketua MPR RI, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Prof. Dr. Darmoko, Dr. Turita Indah Setyani, serta dimoderatori Dosen Program Studi Sastra Jawa FIB UI Dr. Ari Prasetiyo.

Melalui Wayangan Ruwat Rawat Hutan, para penyelenggara ingin menegaskan bahwa menjaga hutan bukan hanya persoalan mempertahankan pepohonan. Lebih jauh, pelestarian hutan merupakan upaya merawat hubungan manusia dengan alam, sekaligus memastikan keberlanjutan kehidupan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....