Gelar Budaya Wayang Kulit Warga Papeling

  • 27 Jul 2026 15:32 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID.Jakarta: Semangat melestarikan seni tradisi terus digelorakan oleh keluarga besar Paguyuban Perantau Purbalingga (Papeling). Hal itu terungkap dalam dialog budaya bersama Wahyu Triyono, Pembina Papeling, yang disampaikan melalui sambungan telepon pada program Apresiasi Budaya Banyumas Pro 4 RRI Jakarta, Jumat (24/7/2026). Acara yang dipandu Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak tersebut mengangkat agenda Pagelaran Wayang Kulit yang akan digelar pada Sabtu, 25 Juli 2026 di Gedung Auditorium BJ Habibie, Jalan Padjajaran No. 154, Bandung. Dalam perbincangan itu, Wahyu Triyono menegaskan bahwa pagelaran tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah gerakan budaya yang mempererat persaudaraan warga perantauan Purbalingga sekaligus menjadi ruang regenerasi bagi seni pedalangan di tengah derasnya arus modernisasi.

Menurut Wahyu Triyono, pagelaran yang mengusung lakon "Kangsa Adu Jago" dengan tajuk "Aksi Kolaborasi Jati Diri" menjadi simbol penting bahwa budaya Jawa akan tetap hidup apabila diwariskan kepada generasi muda. Kehadiran Ki Wanda Yudasmara sebagai dalang utama yang berkolaborasi dengan dalang cilik Ki Afan Giatsya Nurfalah menjadi bukti nyata proses regenerasi yang berjalan dengan baik. Kolaborasi lintas generasi tersebut diharapkan mampu memberikan inspirasi bahwa kecintaan terhadap wayang kulit dapat ditanamkan sejak usia dini tanpa menghilangkan pakem, nilai filosofi, maupun keindahan seni pertunjukan tradisional yang telah diwariskan para leluhur selama berabad-abad.

Lebih lanjut, Wahyu Triyono menjelaskan bahwa penyelenggaraan pagelaran ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-10 Papeling. Selama satu dekade berdiri, Papeling terus berupaya menjaga identitas budaya masyarakat Purbalingga di tanah rantau melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. Wayang kulit dipilih karena mengandung nilai pendidikan karakter, keteladanan, kepemimpinan, gotong royong, hingga pesan moral yang tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya menikmati pertunjukan sebagai hiburan semata, tetapi juga mampu memahami makna luhur yang terkandung dalam setiap tokoh, dialog, dan alur cerita pewayangan.

Dalam dialog tersebut, Wahyu Triyono juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Banyumas, Purbalingga, dan pecinta budaya Jawa yang berada di Bandung maupun sekitarnya untuk hadir menyaksikan pagelaran yang terbuka untuk umum. Selain dapat menikmati penampilan para seniman terbaik, masyarakat juga diajak menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya bangsa. Menurutnya, keberhasilan menjaga eksistensi wayang kulit tidak hanya menjadi tanggung jawab para dalang atau komunitas seni, melainkan membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat agar warisan budaya adiluhung Indonesia tetap lestari dan mampu bersaing di tengah perkembangan budaya global.

Menutup perbincangan di Pro 4 RRI Jakarta, Wahyu Triyono menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, seniman, komunitas Papeling, serta berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara tersebut. Ia optimistis pagelaran wayang kulit dengan lakon "Kangsa Adu Jago" akan menjadi momentum memperkuat kebersamaan warga perantauan sekaligus memperlihatkan bahwa seni tradisi mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Melalui siaran Apresiasi Budaya Banyumas, yang dipandu Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak, masyarakat diajak bersama-sama menjaga nyala budaya Jawa agar terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai identitas bangsa yang membanggakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....