Komunitas Tari Satria Buwana, Menjaga Tari Tradisi
- 24 Agt 2026 16:42 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Komunitas Tari Putera Satria Buwana resmi didirikan pada 19 Desember 2025 oleh Nuke Galdira, Hasto Nugroho, dan Widhi Anthony.
- Komunitas ini menyediakan ruang khusus bagi para pria untuk belajar seni tari, berekspresi, dan menjaga kelestarian budaya tradisional Nusantara.
- Nama Satria Buwana bermakna Para Penjaga Bumi Pertiwi, mencerminkan misi untuk merawat dan mengembangkan seni tari tradisional Indonesia, terutama tari putera Jawa Klasik.
RRI.CO.ID, Jakarta - Komunitas Tari Putera “Satria Buwana” dibuat sebagai ruang bagi para pria pecinta seni tari untuk belajar, berekspresi, sekaligus ikut menjaga kelestarian budaya Nusantara. Komunitas yang berdiri pada 19 Desember 2025 ini digagas Nuke Galdira, Hasto Nugroho, dan Widhi Anthony. Nama Satria Buwana bermakna “Para Penjaga Bumi Pertiwi”, sebagai semangat untuk merawat sekaligus mengembangkan seni tradisi Indonesia, khususnya tari putera Jawa Klasik.
Baca Juga : Urban Spiritual Indonesia & Tempo Grup Ajak Kesadaran Harmoni Batin
Baca Juga : Mira Gusniwati: Mengabdi lewat Pendidikan dan Kewirausahaan
Kehadiran komunitas ini berangkat dari keinginan menghadirkan wadah bagi pria yang memiliki hobi menari, tanpa harus terbebani oleh stigma bahwa menari merupakan aktivitas yang kurang lazim bagi laki-laki. Satria Buwana juga membuka ruang bagi mereka yang ingin mengenal tari lebih jauh meski belum memiliki kemampuan menari. Para anggota dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman, sementara pelatih turut membimbing anggota sesuai kemampuan masing-masing.

Baca Juga : Nyala Suar di Sunset Pier, Swara SeadaNya Bersiap Pentaskan Sutasoma
Salah satu founder komunitas, Nuke Galdira menyampaikan perihal internal komunitas anggotanya , yang hadir langsung bersama dua founder lainnya ke Studio Pro 4 RRI Jakarta, Senin 24 Agustus, 2026.
"Kini kami Satria Buwana memiliki sekitar 20 anggota berusia 19 hingga 60 tahun dengan latar belakang beragam, mulai dari mahasiswa, desainer fesyen , makeup artist, karyawan swasta, fotografer hingga PNS, keanggotaan terbuka bagi pria berusia 17 hingga 75 tahun yang berdomisili di Jabodetabek dan memiliki ketertarikan terhadap tari tradisi putera, terutama Jawa Klasik. Setiap anggota di upayakan untuk belajar bersama tanpa tekanan harus langsung mahir, ujar Nuke.

Kegiatan komunitas berlangsung melalui latihan rutin dua kali dalam sebulan setiap Rabu atau Kamis di Studio A7, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Ketika menghadapi agenda pertunjukan, intensitas latihan ditambah. Satria Buwana juga telah tampil dalam sejumlah kegiatan, antara lain Pagelaran Wayang Kakung oleh WO Bharata dalam rangka Hari Ibu 2025, Festival Bedhayan VI 2026 di GKJ dengan karya “Bedhaya Brama Astra”, Festival Payung Indonesia 2026 di Solo dengan tari “Gunung Sari”, serta berbagai workshop dan kegiatan seremonial.

Ke depan, Satria Buwana berharap semakin banyak pria berani menyalurkan kecintaannya terhadap seni tari dan mengembangkan kemampuan secara bersama-sama. Bagi komunitas ini, tari bukan sekadar gerak di atas panggung, melainkan ruang untuk membangun persaudaraan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya. “Satria Buwana” ingin tumbuh bukan hanya sebagai komunitas, tetapi juga menjadi wadah kreatif bagi para pria pecinta tari untuk berekspresi dan mengambil bagian dalam berbagai panggung seni berskala nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....